Tahun 2004 Nurul Arifin Raih Suara Terbanyak, Tapi Tak Lolos ke DPR
Nurul Arifin mengaku bersyukur karena saat baru masuk ke Partai Golkar, ia mendapat kepercayaan menjadi anggota pengurus
Penulis:
Abdul Qodir
TRIBUNNEWS.COM – Nurul Arifin mengaku bersyukur karena saat baru masuk ke Partai Golkar, ia mendapat kepercayaan menjadi anggota pengurus di Departemen Pemberdayaan Perempuan. "Jadi, itu lumayan deh kalau untuk pemula," kata dia.
Setahun kemudian, 2004, Nurul dipercaya menjadi calon anggota DPR atau calon legislatif (caleg). Sayang, sistem pemilihan legislatif saat itu menunda karier politik Nurul di DPR.
"Saat 2004 itu saya sudah caleg, tapi kalah karena saat itu sistem nomor urut, sistem tertutup. Padahal pada 2004 itu saya dapat suara terbanyak, dapat 89 ribu suara untuk dua kabupaten saja, tapi nomor tiga sehingga tidak jadi," kata Nurul.
Barulah pada Pemilu 2009, ketika pemilihan menggunakan sistem proporsional terbuka, caleg DPR yang lolos ke DPR adalah mereka yang memperoleh suara tertinggi tanpa memperhatikan nomor urutnya.
"Dengan menggunakan sistem suara terbanyak, yah saya nomor satunya dapat, suara terbanyak juga dapat. Caleg pada 2004 dan 2009 itu saya diminta oleh partai," katanya.
Nurul pun merasa miris melihat proses rekrutmen caleg dari kalangan artis oleh sejumlah parpol secara instan yang terjadi saat ini. "Jadi, prosesnya seperti itu. Berbeda dengan rekrumen artis yang sekarang ini terjadi. Kalau saya saat itu kebetulan aktifis perempuan dan aktif," ujar Nurul.