Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Malaikat Pasti Korupsi Kalau ke Indonesia

Perilaku korup di Indonesia tak pernah berhenti dan menyeret siapa pun, tak peduli jabatannya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Y Gustaman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perilaku korup di Indonesia tak pernah berhenti dan menyeret siapa pun, tak peduli jabatannya.

Fenomena ini menunjukkan korupsi sudah menjadi kebiasaan. Bahkan muncul lelucon, malaikat pun akan melakukan hal sama.

Ungkapan itu disampaikan Direktur Indonesia Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko, saat diskusi 'Caleg dan Pencegahan Korupsi Politik,' yang digelar DPP PPP di kantornya, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2013).

"Koruptor disuruh tobat, enggak akan masuk. Karena, orang korupsi kebanyakan karena ada habitus. Manusia dipandu oleh habitus. Malaikat pun kalau ke Indonesia akan melakukan korupsi karena habitusnya," tutur Danang.

Menurutnya, perbuatan korup tidak didorong karena gaji seseorang kecil atau tidak taat beragama. Karena, pada faktanya korupsi dilakukan oleh mereka yang justru sudah mapan dan lebih secara ekonomi.

Danang mencontohkan, kesalahan yang kerap tak disadari oleh pelaku korupsi, adalah menerima gratifikasi dan uang ketika menjadi pejabat publik. Kebiasan yang ia lakukan sebelum jadi pejabat publik dilakukannya ketika jadi pejabat.

Salah satu faktanya ada dalam kasus cek pelawat, di mana ada bekas anggota Dewan mengaku tidak menikmati uang karena disumbangkan untuk masjid. Persoalannya tidak berhenti kalau uang itu untuk masjid, tapi karena sudah menerima maka tetap salah.

Rekomendasi Untuk Anda

Danang menyindir, sekali pun uang gratifikasi atau hasil korupsi diberikan langsung untuk Allah, perbuatan menerima uang tetap masuk dalam kategori korupsi. Kesadaran ini yang seharusnya dipahami pejabat publik.

Seharusnya, kata Danang, partai politik sebagai penyambung aspirasi masyarakat bisa menghindari praktik korup. Karena, dalam sejarahnya partai politik menjadi kuat bukan karena kekuatan modal uang, tapi modal sosial, yang anehnya saat ini melemah. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas