Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

IPW Duga Polisi Kerahkan Preman Bubarkan Aksi Demo

Indonesia Police Watch menilai kepolisian berlaku represif, diduga menggunakan premanuntuk bubarkan demonstrasi yang menolak kenaikan harga BBM

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Y Gustaman
Editor: Gusti Sawabi

TRIBUNnews.com, JAKARTA - Indonesia Police Watch menilai kepolisian berlaku represif, juga diduga menggunakan preman bayaran untuk membubarkan demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM seperti di Makasar, Palopo, dan Samarinda.

"Dalam demonstrasi di Makasar, Senin (17/6/2013) misalnya, para preman muncul dari belakang barikade polisi dan menyerang mahasiswa," ujar Presidium IPW Neta S Pane dalam surat elektronik yang diterima Tribunnews.com di Jakarta, Minggu (23/6/2013).

IPW sangat menyayangkan kenapa polisi bukannya mengusir para preman, tapi malah membiarkan. Setelah preman maju, aparat kepolisian kalu mundur dan menjadi penonton.

"Penggunaan preman dalam mengatasi aksi demo mahasiswa bisa memicu konflik horizontal di masyarakat kian meluas. Apalagi para preman tersebut memprovokasi warga sekitar agar ikut melempari mahasiswa," katanya.

IPW mendesak Kapolri segera memerintahkan para kapolda dan kapolres untuk menghentikan penggunaan preman dalam mengatasi demo mahasiswa.

Demo seminggu terakhir terjadi di 62 kota. Ada 229 mahasiswa ditangkap dan kini sudah dibebaskan, kecuali di Medan masih ditahan 14 mahasiswa. IPW mendesak agar mahasiswa tersebut dibebaskan.

Selain itu ada 118 mahasiswa luka yang sebagian besar akibat dipukuli dan ditembaki polisi dengan peluru karet, dan 18 di antaranya msh dirawat. Jumlah polisi yang luka sembilan orang. Dalam aksi itu ada empat kantor polisi dibakar mahasiswa, dua di Jakarta, satu di Kendari, dan satu di Medan.

Rekomendasi Untuk Anda

Wartawan pun ikut jadi korban keberingasan polisi, yakni reporter Trans Tv di Jambi (luka tembak di pelipis), Andi Nugroho, wartawan Alikindi Ternate (luka tembak di kaki), dan Ismed wartawan Kendari Express (luka pukulan di pelipis).

Kota paling rawan dan polisinya paling ceroboh dalam mengatasi aksi demo adalah Medan, Jambi, dan Ternate. Hanya di kota Medan yang demonstran terbiarkan membakar KFC dan polisi tidak mengantisipasinya. Sedangkan kota besar paling aman dan damai aksi demo adalah Semarang, Surabaya, dan Bandung.

"Polri diharapkan mampu melakukan deteksi dan mengantisipasi dini secara maksimal. Sebab ke depan demo menolak kenaikan harga BBM masih akan marak," tegasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas