Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Melanie Subono: Pemerintah RI yang Sebabkan Uang Tebusan Satinah Naik Jadi Rp 21 Miliar

Melanie Subono, mengungkapkan fakta baru terkait uang diyat untuk menyelamatkan TKI Satinah dari hukum pancung Arab Saudi.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Melanie Subono: Pemerintah RI yang Sebabkan Uang Tebusan Satinah Naik Jadi Rp 21 Miliar
TRIBUNNEWS.COM/Bian Harnansa (bian)
Pekerja seni, yang aktif di Migrant Care, Melanie Subono giat blusukan menggalang dana ketika ditemui Kompas TV, Jakarta, Senin (24/3/2014) Melanie Subono melakukannya untuk menyelamatkan Satinah TKI yang akan di hukum pancung di Arab Saudi pada 3 April 2014 mendatang. (TRIBUNNEWS.COM/Bian Harnansa) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Reza Gunadha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Musikus cum aktivis buruh migran, Melanie Subono, mengungkapkan fakta baru terkait uang diyat (tebusan) untuk menyelamatkan tenaga kerja Indonesia (TKI) Satinah dari hukum pancung Arab Saudi.

Melanie kepada Tribunnews.com, Senin (24/3/2014), mengatakan Pemerintah RI sendiri lah yang menyebabkan uang diyat Sutinah membengkak menjadi Rp 21 miliar.

"Tahun 2011, saat divonis bersalah, uang diyat yang diminta keluarga majikan Satinah hanya Rp 1,5 miliar. Tapi pemerintah RI tidak menanggapinya. Apalah artinya uang senilai itu, dibandingkan Rp 83 triliun yang disumbang TKI setiap tahun," kata Melanie Subono.

Ia mengungkapkan, ketika masih dalam proses persidangan, tidak ada satu pun perwakilan pemerintah RI yang mau mendampingi Satinah.

"Selama persidangan, Satinah hanya didampingi oleh aktivis Migrant Care. Setelah keluar putusan, sekitar tahun 2012 pemerintah baru ikut mendampingi. Tapi, tetap saja tidak mau membayar Rp 1,5 miliar, malah beli pesawat kepresidenan," ketusnya.

Melanie menuturkan, setelah besaran uang diyat itu membengkak, pemerintah mengirimkan Kepala Satgas Penanganan WNI Maftuh Basyuni untuk negosiasi dengan otoritas Arab Saudi maupun keluarga majikan Satinah.

Rekomendasi Untuk Anda

"Saya tau karena saya yang mendampingi Satinah. Uang diyatnya membengkak jadi Rp 45 miliar. Sekarang turun jadi Rp 21 miliar," tuturnya.

Untuk diketahui, Satinah merupakanTKI asal Ungaran Tengah, Jawa Tengah, yang terancam dipancung di Arab Saudi pada 3 April 2014. Itu kalau pemerintah tidak bisa membayar uang diyat (tebusan) sebesar Rp 21 miliar.

Termutakhir, Pemerintah Indonesia mengaku hanya memiliki uang Rp 18 miliar untuk membayar uang diyat. Karenanya, masih kekurangan Rp 3 miliar untuk membebaskan Satinah dari hukuman pancung.

"Logikanya, kalau bisa beli pesawat, kenapa nebus nyawa satu warganya saja tidak bisa," tandasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas