AMM: Hentikan Eksploitasi Penyu
Sebelum kita melepaskan penyu ke laut, mari kita renungkan bahwa yang kita lakukan hari ini bukan sekadar acara seremonial
Penulis:
Hasanudin Aco
Editor:
Johnson Simanjuntak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Ali Masykur Musa melepas penyu di kawasan Hotel Oberoi Lombok, Rabu (2/4/2014). Kegiatan ini menjadi agenda pembuka dalam acara Rapat ke-13 Intosai Working Group on Environmental Audit (WGEA) di Lombok yang diikuti 16 negara.
"Sebelum kita melepaskan penyu ke laut, mari kita renungkan bahwa yang kita lakukan hari ini bukan sekadar acara seremonial,” ujar Ali sesaat sebelum melepaskan penyu ke laut.
Ali Masykur selain sebagai Anggota BPK-RI yang membidangi Audit Lingkungan beserta Kelompok Kerja Audit Lingkungan se-Dunia tersebut menekankan, bahwa pelepasan penyu ini merupakan komitmen anggota Intosai WGEA untuk selalu menjaga lingkungan dan bertekad untuk memberikan warisan positif bagi generasi mendatang.
“Selain itu, kegiatan ini penting dilakukan sebagai salah satu upaya melindungi keberadaan penyu yang terancam punah,” kata Ali.
Dari 7 jenis penyu yang ada diseluruh dunia, tercatat 6 jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia yaitu penyu hijau, sisik, abu-abu, pipih, belimbing, serta penyu tempayan.
Sayangnya, lanjut Ali, tingkat populasinya kian menurun tiap tahunnya. Oleh karena itu, pelestarian penyu sangat penting dilakukan mengingat hewan ini telah terdaftar dalam daftar Apendik I Konvensi Perdagangan Internasional Flora dan Fauna sebagai Spesies Terancam. Ancaman terhadap pelestarian penyu begitu besar, terutama dari manusia sendiri.
“Ancaman terhadap penyu masih sering terjadi, perdagangan daging dan telur masih ada, ditambah dengan munculnya permintaan plastron (penutup pada bagian dada dan perut) untuk pasar internasional,” terang Ketua Umum Ikatan Sarjana NU tersebut.
Dengan beragamnya ancaman ini, Ali mengusulkan bahwa kegiatan konservasi tidak boleh dilakukan ala kadarnya, diperlukan adaptasi strategi global. Ancaman dari luar kawasan, seperti perdagangan telur dan plastron internasional tidak bisa ditangani hanya melalui penegakan hukum setempat.
“Melestarikan penyu tidak bisa kita lakukan sendirian. Perlu peningkatan kerjasama baik dalam skala lokal maupun internasional. Bukan hanya pencegahan pencurian, tetapi juga penerapan hukum seberatnya untuk siapa saja yang memperdagangkan penyu. Eksploitasi penyu harus dihentikan,” tegas pria yang masuk sebagai salah satu Calon Presiden Konvensi Partai Demokrat itu.
Sebelumnya, Ali Masykur bersama 45 delegasi dari 16 negara Anggota Kelompok Kerja Audit Lingkungan se-Dunia mengikuti penanaman ribuan pohon di Hutan Suranadi Lombok Barat yang juga diikuti peserta sebanyak 7.500 orang. Selain untuk melestarikan lingkungan, acara tanam pohon tersebut juga diadakan untuk memperingati HUT Ke-56 Kabupaten Lombok Barat.