Dukung Pilkada Langsung, Mahasiswa: Hak Suara Saya, Ayo Rebut Kembali
"Mana dimana hak suara saya, hak suara saya kemarin sudah mati..Mana dimana hak suara saya, hak suara saya ayo rebut kembali...!"
Editor:
Rendy Sadikin
Laporan Wartawan Warta Kota, Budi Sam Law Malau
TRIBUNNEWS.COM, DEPOK - "Mana di mana hak suara saya, hak suara saya kemarin sudah mati..Mana di mana hak suara saya, hak suara saya ayo rebut kembali...!!"
Koor lagu 'Anak Kambing Saya' dengan lirik yang sedikit diubah itu, terdengar sangat menggema di pelataran Stasiun KA UI, Depok, Jumat (10/10/2014) sekira pukul 16.00.
Sekitar 60 mahasiswa dari kampus se Jabodetabek, menyanyikannya saat mereka berunjuk rasa menolak UU Pilkada yang disahkan DPR beberapa waktu lalu.
Mereka merasa disahkannya UU Pilkada ini dimana nantinya Pemilihan Kepala Daerah tidak lagi dilakukan secara langsung tetapi melalui parlemen, dianggap telah merebut hak suara mereka dan mematikan demokrasi di Indonesia.
Karenanya, para mahasiswa ini juga membawa replika kuburan dari kardus, sebagai pertanda sudah matinya hak suara mereka. Kuburan berbentuk kardus itu di atasnya tertulis 'demokrasi' dengan tinta merah. Di atasnya taburan bunga memenuhi makam replika tersebut.
Selain itu, para mahasiswa ini juga membawa puluhan spanduk yang mengecam Pilkada melalui DPR dan menuntut Pilkada kembali dilakukan secara langsung.
"DPR telah mematikan demokrasi dan mengambil hak suara rakyat," kata salah seorang mahasiswa yang berorasi diatas mobil pick up di pelataran Stasiun UI.
Setyo Manggala, koordinator aksi, mengatakan aksi kali ini adalah aksi bersama mahasiswa se Jabodetabek.
Menurut Setyo mereka berasal dari Universitas Iindonesia (UI), IISIP Jakarta, Universitas Gunadarma, UNAS, Universitas Paramadina, Universitas Mercu Buana, UHAMKA, FMN, UNISMA, STT MIKAR Bekasi, Universitas Pakuan Bogor, Pembebasan, LMND dan kampus serta elemen mahasiswa lainnya.
"Dengan aksi ini, kami mengajak masyarakat untuk merebut kembali hak suara rakyat dalam memilih kepala daerah. UU Pilkada yang disahkan jelas-jelas mematikan demokrasi di Indonesia," katanya.
Secara bergantian para mahasiswa dari berbagai kampus dan elemen melakukan orasi di pelataran Stasiun UI tersebut. Kondisi ini sempat membuat arus lalu lintas di gerbang masuk UI agak tersendat. Aksi para mahasiswa ini cukup menarik perhatian warga yang turun dan naik dari Stasiun KA UI, Depok.
"Kami akan terus melakukan aksi seperti ini secara berkala, sampai dikembalikannya Pilkada secara langsung," kata Setyo.
Menurut Setyo pada 20 Oktober 2014 di saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, gabungan mahasiswa se Jabodetabek ini, akan melakukan aksi besar-besaran di Gedung MPR/DPR.
Baca tanpa iklan