Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Hukuman Mati

Politisi PKS: Penundaan Eksekusi Duo Bali Nine Tunjukkan Lemahnya Diplomasi RI

Aboe Bakar Al'Habsy mengatakan Penundaan eksekusi mati para bandar Narkoba termasuk duo bali nine menunjukkan lemahnya diplomasi Indonesia.

Politisi PKS: Penundaan Eksekusi Duo Bali Nine Tunjukkan Lemahnya Diplomasi RI
AFP/SONNY TUMBELAKA
Kendaraan lapis baja milik TNI disiagakan untuk mengamankan daerah sekitar Lapas Kerobokan Denpasar, Bali, saat pemindahan dua terpidana mati penyelundup narkoba asal Australia ke Nusakambangan, Rabu (4/3/2015). Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, dua orang kelompok yang disebut Bali Nine ini rencananya akan dieksekusi mati di penjara dengan pengamanan super ketat itu. AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA 

Tribunnews.com, JAKARTA-- Anggota Komisi III DPR RI Habib Aboe Bakar Al'Habsy mengatakan Penundaan eksekusi mati para bandar Narkoba termasuk duo bali nine menunjukkan lemahnya  diplomasi Indonesia.

Bisa jadi, kata Politisi Partai Keadilan Sejahtera, Minggu (8/3/2015), hal ini merupakan indikasi Indonesia dalam preasure Australia yang dalam
beberapa waktu terakhir berlangsung secara masif. Pun apabila alasan yang disampaikan adalah masih adanya proses hukum yang diajukan oleh para
terpidana mati, ini menunjukkan bahwa jaksa agung kurang cermat dalam melakukan proses finalisasi administrasi dari para terpidana.

Seharusnya, menurut dia, daftar nama yang masuk dalam rencana eksekusi adalah para Napi yang sudah memiliki kekuatan hukum mengikat atau incrach. jika proses hukum masih diajukan oleh seorang napi, seharusnya mereka tidak dimasukkan dalam rencana eksekusi.

Kata dia, penundaan eksekusi mati seperti ini akan membawa dampak buruk pada pemberian efek jera. Para pengedar tidak akan takut lagi dengan ancaman hukuman mati, karena semua masih bisa ditunda-tunda.

"Sedangkan dampak narkoba terus berjalan, setiap harinya sekitar 50 orang mati. Karenanya, menunda eksekusi mati mereka sehari, sama saja kita
mentolelir kematian 50 orang yang terpapar dampak narkoba," ujar Anggota Komisi III DPR RI ini.

Lebih lanjut Habib Aboe Bakar Al'Habsy katakan, belajar dari kasus Mustofa ataupun Freddy Budiman yang setelah divonis mati masih juga bermain dengan narkoba. Menunjukkan perlunya untuk segera melakukan eksekusi agar mereka tidak bertransaksi lagi.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Gusti Sawabi
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas