Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Perpadi: Beras Sintetis Tidak Mungkin Alasan Ekonomi

Ketua Perpadi, Nellys Soekidi, meragukan itu dilandasi motif ekonomi karena biji plastik lebih mahal dibandingkan dengan beras.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Perpadi: Beras Sintetis Tidak Mungkin Alasan Ekonomi
Eri Komar Sinaga/Tribun Jakarta
Ketua Perpadi, Nellys Soekidi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) berpendapat tidak ada motif ekonomi mengenai adanya kabar beras sintetis yang beredar di pasaran.

Ketua Perpadi, Nellys Soekidi, meragukan itu dilandasi motif ekonomi karena biji plastik lebih mahal dibandingkan dengan beras.

"Tidak mungkin motif ekonomi bagi pelaku usaha karena biji plastik itu kan sekarang sangat tinggi. Kalau di-mix (campur) tujuannya apa," kata Nellys saat diskusi bertajuk 'Kejahatan Beras Sintetis', di Hotel Double Tree by Hilton, Jakarta, Sabtu (23/5/2015).

Pedagang, lanjut Nellys pasti berusaha untuk mendapatkan keuntungan sebaik-baiknya.

Namun apabila mematok untung yang setinggi-tingginya, Nellys khawatir itu aka berdampak kepada pelanggan yang akan mencari pedagang beras yang lain. Namun tidak juga untung rendah karena pedagang harus membayar gaji karyawan.

"Kita pengennya kondisi stabil, dagang yang baik. Saya pikir seperti itu. Biji plastik resikonya sangat tinggi. Ditinggal pelanggan. Kedua bisa terhukum kan plastik diaduk sama beras. Untungnya dimana," kata Nellys.

Nellys menekankan hingga saat ini belum diketahui secara pasti beras yang disebut sisntetis. Persoalannya, lanjut Nelly, pemerintah tidak membuka uji laboratorium yang menemukan ada beras sintetis.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kecuali kalau tercampur itu kan kita nggak tahu. Kalau tercampur, siapa yang campur. Harusnya di lab itu dibuka saja biar jelas siapa (pelakunya)," tukas Nellys.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas