Tokoh Agama Diminta Jangan Sampaikan Khutbah Bernada Provokatif
Pemuka agama diminta tak mengeluarkan khutbah provokatif kepada umatnya masing-masing, menyikapi insiden penyerangan di Tolikara.
Penulis:
Imanuel Nicolas Manafe
Editor:
Y Gustaman
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Imanuel Nicolas Manafe
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Usai melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Negara, Jakarta, para tokoh lintas agama memberi pesan kepada seluruh umat agar tidak membuat provokasi.
"Saya imbau kepada semua khatib salat Jumat besok, jangan sampai memberikan khotbah yang bernada memprovokasi," ujar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj di Istana Negara, Kamis (23/7/2015).
Kiai Said mengatakan agar insiden di Kabupaten Tolikara, Papua menjadi pembelajaran seluruh masyarakat. Ia juga meminta pemerintah berlaku tegas terhadap provokator yang menyebabkan insiden terjadi.
"Harus diproses hukum, termasuk aktor intelektual. Penegakan hukum itu juga termasuk menindak aparat keamanan yang menyalahi prosedur. Pemerintah diharapkan secepatnya merehabilitasi fasilitas ibadah dan fasilitas umum," ucap Kiai Said.
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Pdt Henriette T. Hutabarat Lebang menambahkan, pihaknya meminta agar para pendeta dan pastor yang melakukan pelayanan ibadah Minggu tidak mengumbar pesan provokatif pada jamaat.
Sementara itu, Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia Arief Harsono menganggap bahwa komunikasi antarumat adalah suatu hal yang esensial dalam kehidupan untuk menumbuhkan rasa saling menghargai serta hilangkan kecurigaan.
"Dalam komunikasi, kita bisa menciptakan saling respect, dan menghilangkan kecurigaan sehingga kita bisa konsentrasi untuk bangun negeri," kata Arief.