Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Wakil Ketua MPR Kaget Pidato Megawati Di‎pelintir Media Massa Asing

Ia menilai Megawati menyampaikan pemikiran orisinil dan objektif soal kondisi ketatanegaraan dan masyarakat Indonesia terkini

Wakil Ketua MPR Kaget Pidato Megawati Di‎pelintir Media Massa Asing
TRIBUNNEWS.COM/Ferdinand Waskita
Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang berbaju abu-abu 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang (OSO) menyesalkan adanya pemberitaan media massa asing yang memelintir pernyataan Megawati Soekarnoputri di Hari Konstitusi.

Oesman mengaku ingat dengan isi pidato Presiden ke-5 RI. Pasalnya, ia hadir dalam acara tersebut dimana Megawati menjadi pembicara kunci.

Ia menilai Megawati menyampaikan pemikiran orisinil dan objektif soal kondisi ketatanegaraan dan masyarakat Indonesia terkini.

Salah satu yang dibahas Megawati mengenai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dimana Megawati menekankan bahwa bila korupsi sudah tak ada di Indonesia, maka KPK bisa dibubarkan sebagai lembaga ad hoc.

"Itu yang saya dengar dan saya tangkap selain Ibu Mega menyampaikan gagasan lain. Namun saya kaget ketika media massa menulisnya tak lengkap dan memelintir. Bahwa KPK sifatnya ad hoc dan gagasan membubarkan KPK. Ini dilakukan media luar negeri ya. Kalau media dalam negeri tak ada yang menulisnya," ujar Oesman dalam seminar bertema 'Mengkaji Gagasan Kenegaraan Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri, di Gedung MPR, Jakarta, Kamis (20/8/2015).

Oesman mengaku atas ulah media asing itu, logika yang dimilikinya masih tetap tak bisa menerima.

"Bagaimana mungkin gagasan brilian negarawan ditulis jadi berita menyesatkan? Bahkan berita itu sudah mengarah kepada pembunuhan karakter orang. Jangan sekali-kali itu dilakukan," tegas Oesman.

Menurutnya hal tersebut tidak boleh terjadi lagi dimana Pancasila sebagai dasar negara.‎

Selain itu, Oesman mengakui pihaknya merasa momentum kejadian itu menyadarkan pihaknya, soal pentingnya memastikan efektivitas transfer pesan terkait ide-ide kenegarawanan. Salah satunya adalah soal peran media massa.

Harus diakui, kata Oesman, bahwa saat ini media massa semakin liar. Kalau dulu media massa berpihak pada penguasa, sekarang berpihak kepada pengusaha media.

Kalau dulu mengadi pada kepentingan politik, sekarang pada kepentingan ekonomi.

"Tapi itu semua pers luar negeri loh, bukan pers dalam negeri. Pers merdeka. Saya setuju. Tapi harus bertanggung jawab. Kalau salah, ya harus tanggung jawab. Bukan menakut-nakuti agar media hati-hati. Tapi ya bertanggung jawab," imbuhnya.

Sementara,‎ Ketua Fraksi PDI Perjuangan di MPR RI, Ahmad Basarah, menambahkan, memang kerap kali pesan terkait topik konstitusi tak sampai ke masyarakats secara baik. Sebab fungsi media tak berjalan sebagaimana mestinya.

"Karena itu saya kira pentingnya seminar yang mengkaji pemikiran Presiden RI Kelima Ibu Megawati. Dan sekaligus membahas bagaimana mentransfer pemikirannya, sehingga pesannya sampai ke masyarakat dengan baik," jelasnya.‎

Penulis: Ferdinand Waskita
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas