Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ingin Segera Pulang Terhalang Badai, Tri Lalui Air Bah Setinggi Paha

Badai dimulai dengan awan hitam dan angin kencang

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Ingin Segera Pulang Terhalang Badai, Tri Lalui Air Bah Setinggi Paha
Tribun Lampung/Ridwan Hardiansyah
Seorang petugas PPIH Sektor 6 Mekkah sedang melihat badai yang terjadi, Jumat (11/9/2015) sore. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Ridwan Hardiansyah

TRIBUNNEWS.COM,  MEKKAH - Selesai melaksanakan umrah, Tri Kuncorowati (45) meninggalkan Masjidil Haram menggunakan taksi, Jumat (11/9/2015) sekitar pukul 16.45 waktu setempat.

Belum sampai di hotel tempat ia menginap, badai telah menghadang perjalanannya sekitar pukul 17.00. Ia dan dua orang temannya akhirnya terjebak di dalam taksi, yang tak mampu melanjutkan perjalanan.

"Karena saya belum umrah wajib, maka saya pergi umrah ke Masjidil Haram. Waktu pulang naik taksi, ketemu badai," kata Tri, Sabtu (12/9/2015).

Badai dimulai dengan awan hitam dan angin kencang. Karena angin yang sangat kencang, Tri menuturkan, mobil-mobil yang terparkir di pinggir jalan, bisa bergerak sendiri.

"Pembatas-pembatas jalan juga banyak yang roboh," ucap petugas Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) asal Lampung itu.

Seiring dengan awan hitam dan angin kencang, kilat mulai menyambar-sambar. Disambung dengan, gemuruh petir. Serta, hujan deras yang membasahi bumi.

Rekomendasi Untuk Anda

"Sopir taksi kami memilih melewati jalan-jalan kecil. Saya sudah takut saja. Jangan-jangan, saya mau diculik. Tetapi akhirnya, saya paham. Kemungkinan, sopir ingin menghindari macet karena mobil jalan sendiri tadi," papar Tri.

Perjalanan Tri ternyata tak berlangsung lama. Si sopir lantas menghentikan taksinya. Dalam keadaan cuaca buruk, sopir tersebut lalu mengajak Tri berbincang dalam bahasa Arab.

"Saya tambah bingung. Dia bicara apa, kami tidak paham. Masak, kami mau diturunkan saat kondisi seperti itu, dan tidak tahu ada di mana," kata Tri.

Karena tidak saling memahami, sopir itu lalu keluar dari taksinya. Ia pergi ke arah sebuah toko. Saat itu, Tri menyadari, sopir tersebut hendak meminta penumpangnya berteduh dahulu.

"Kami ikut keluar lalu masuk toko. Penjaga toko juga menyuruh masuk. Dia bilang Indonesi masuk. Di dalam, ternyata sudah banyak jamaah sedang berteduh juga. Ternyata, sopir menghentikan mobil karena sudah tidak bisa melihat ke depan. Karena, debunya tebal," ujar Tri.

Sekitar hampir satu jam berada di toko, hujan mereda. Tetapi kemudian, Tri menuturkan, air bah setinggi paha melintas di jalan. Tetapi, air tersebut tak sampai membanjiri toko. Sebab, toko-toko dibangun lebih tinggi dibandingkan jalan.

"Walaupun dilarang, kami nekat menyeberangi jalan. Sebab kalau tidak seperti itu, kami tidak pulang. Alhamdullillah, kami sampai hotel juga," kata Tri.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas