Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Dengar Kampusnya Ditutup, Sekjen Gerindra Muzani Terkejut

(Kemenristek Dikti) memasukkan nama Universitas Ibnu Chaldun dalam daftar kampus bodong dengan status non-aktif.

Dengar Kampusnya Ditutup, Sekjen Gerindra Muzani Terkejut
Wahyu Aji/Tribunnews.com
Wisuda mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) memasukkan nama Universitas Ibnu Chaldun dalam daftar kampus bodong dengan status non-aktif.

Terkait hal tersebut salah seorang alumninya Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengaku kaget mendengar kabar tersebut.

"Demi Tuhan, saya baru tahu. Ya Allah Ya Rabbi. Terkejut," kata Muzani saat dihubungi, Senin (5/10/2015).

Anggota Komisi I DPR RI ini mengaku belum mendengar langsung kabar itu. Untuk itu dirinya tak ingin banyak berkomentar.

"Saya cek dulu ya," kata Muzani.

Lebih lanjut Muzani tak ingat kapan tepatnya dia masuk Universitas. Soalnya, dia menempuh pendidikan Strata 1‎ itu dalam kurun waktu yang cukup lama. Itu adalah Universitas satu-satunya yang dia gunakan untuk meraih gelar sarjana.

"‎Saya angkatan '90an, lulus sekitar '2000-an," kata Muzani.

Diberitakan sebelumnya, Staf khusus Pembantu Rektor 3 Universitas Ibnu Chaldun, Darojo Ali mengatakan, ada oknum pengurus yayasan pada tahun 2009 diberhentikan karena melakukan berbagai pelanggaran akademik sehingga kampusnya sempat di nonaktifkan.

Kemudian pengurus yayasan itu diberhentikan oleh Dewan Pembina Yayasan, akhirnya sekarang mereka membuat yaysan sendiri dengan mencatut Universitas Ibnu Chaldun, yang berada di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur.

Salah satu pelanggaran akademik yang dilakukan oknum pengurus tersebut tertangkap basah melakukan praktik jual beli ijazah.

"Oknum itu ketahuan praktik jual beli ijazah, dan sudah dilaporkan tahun 2011 ke Polda Metro Jaya, dan salah satu oknum tersebut adalah Alfian Almura, ditetapkan jadi tersangka pada 18 Agustus 2014," katanya.

Kasus tersebut terungkap ketika ada salah seorang mahasiswa yang telah diterima di Bank Indonesia. Mereka datang untuk melakukan klarifikasi.

"Setelah dicek dengan data akademik di sini, ternyata nama mereka tidak ada, padahal database kita terhubung langsung ke kopertis, kita tanya mereka di wisuda mereka tidak bisa jawab," katanya.

Penulis: Wahyu Aji
Ikuti kami di
Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas