Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Panglima TNI Ceritakan Sisi Religius Jenderal Besar Sudirman

Panglima TNI menyebutkan Jenderal Sudirman sebelum menjadi anggota kemiliteran merupakan seorang santri.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Valdy Arief
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Panglima TNI Ceritakan Sisi Religius Jenderal Besar Sudirman
Tribun Jogja/Hamim
Seorang pengunjung memberi hormat kepada patung Panglima Besar, Jenderal Sudirman. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saat memberikan pidato dalam perayaan Hari Santri Nasional, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jenderal Gatot Nurmantyo menceritakan sisi religius dari Jenderal Besar Sudirman.

Panglima TNI menyebutkan Jenderal Sudirman sebelum menjadi anggota kemiliteran merupakan seorang santri.

"Jenderal Sudirman itu merupakan seorang santri dan guru agama," kata Jenderal Gatot Nurmantyo di depan para ulama dan santri ketika menghadiri perayaan Hari Santri Nasional di kawasan Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Semasa perjuangan dalam perang gerilya saat mempertahankan kemerdekaan, menurut Panglima TNI, jenderal bintang lima itu selalu menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada anak buahnya.

"Pernah satu waktu, Jenderal Sudirman dikepung pasukan Belanda, Beliau meminta anak buahnya membuka baju seragam dan berwirid secara melingkar bersama-sama. Cara itu berhasil memperdaya pasukan Belanda," tutur Panglima TNI.

Semasa hidup, sebut Jenderal Gatot, Panglima pemimpin perlawanan terhadap Belanda pada masa mempertahankan kemerdekaan, selalu mememegang teguh tiga hal sebagai jimatnya.

Tiga jimat itu, kata Gatot Nurmantyo, yang selalu ditanamkan Sudirman kepada anak buahnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Jimat pertama sosok teladan militer itu adalah selalu dalam keadaan suci atau selalu dalam keadaan berwudhu.

"Ketika wudhunya batal, dia meminta anak buahnya yang selalu membawakan kendi untuk membantunya berwudhu kembali," kata Gatot Nurmantyo.

Salat tepat waktu, cerita Panglima TNI, merupakan jimat kedua yang selalu dipegang teguh Jenderal Besar Sudirman.

"Jenderal Sudirman tidak pernah salat tidak pada awal waktu," ceritanya.

Selalu berbuat dan berjuang untuk tanah air, tutur Gatot Nurmatyo, merupakan jimat terakhir dan terpenting yang dipegang pemimpin gerilya melawan Belanda.

Pada akhir cerita yang didengar secara khidmat oleh warga Nahdliyin di kawasan Tugu Proklamasi, Jenderal Gatot Nurmantyo juga meminta para santri dapat meresapi nilai-nilai yang diwarisi Panglima Besar tersebut.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas