Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Megawati: Jangan Menampar

Sebelumnya, penyanyi Connie Mamahit yang melantunkan lagu "Balada Pelaut" di panggung yang sama juga mengeluhkan mik tersebut.

Megawati: Jangan Menampar
KOMPAS/JITET
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Setelah hujan deras, matahari bersinar terang memanasi lapangan di depan gedung Kabupaten Sangihe di Tahuna, Sulawesi Utara, Jumat (27/11/2015). Massa memenuhi bagian depan panggung yang didirikan di ujung alun-alun itu. Mereka memandang dan mendengarkan dengan takzim presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, yang berbicara di atas panggung.

Suara Mega terdengar lirih. Mik atau pengeras suara yang disediakan untuk Mega tampaknya rusak dan tidak bisa diletakkan di tempatnya. Akibatnya, Mega harus memegang mik itu. "Baru sekali ini saya memegang mik semacam ini," ujarnya.

Sebelumnya, penyanyi Connie Mamahit yang melantunkan lagu "Balada Pelaut" di panggung yang sama juga mengeluhkan mik tersebut.

Wajah Mega hari itu diterpa sinar matahari sehingga keringat mengalir deras di sekujur wajahnya. Namun, ia menolak tisu yang disodorkan seorang perempuan bernama Norma Nortje Tiwa. Keringat terus mengalir di wajahnya.

Perempuan

Di pulau terluar itu Mega antara lain bercerita tentang seorang anak perempuan dari sebuah keluarga miskin yang tinggal jauh dari Jakarta. Anak perempuan itu pandai, tetapi tidak bisa melanjutkan sekolah. Mega minta kepada orangtua anak perempuan itu untuk membawa anak perempuannya ke Jakarta guna disekolahkan lebih lanjut.

Orangtua anak perempuan tersebut hampir pingsan mendengar permintaan Mega. Akhirnya, Megawati memboyong anak itu beserta keluarganya ke Jakarta. "Saya ingin kaum perempuan di Indonesia maju dan kuat. Jangan hanya saya yang sempat jadi presiden. Perempuan lain juga harus bisa," ujarnya.

Kemudian Mega bicara soal perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Ia ingin hal itu tidak terjadi.

Berceritalah ia tentang suaminya, almarhum Taufik Kiemas, yang dulu kalau marah suaranya keras. Untuk mencegah sang suami melakukan tindak kekerasan, Mega menyampaikan ancaman.

"Saya akan tinggalkan kamu kalau menampar atau melakukan kekerasan kepada saya. Namun, beliau kini sudah tiada," ujarnya yang disambut tawa hadirin.

Mega menasihatkan kepada para perempuan jangan cukup gembira apabila disebut sebagai perempuan cantik dan manis. "Kaum perempuan juga harus pandai dan kuat," katanya.

Kepada kaum pria yang suka memukul perempuan, Mega meminta agar mereka memukul diri sendiri. "Kalau terasa sakit, jangan lakukan itu kepada perempuan," ujarnya.

Hal lain yang dikritik Mega adalah dunia olahraga di negeri ini. "Lihat saja olahraga kita. Perbaikan olahraga adalah bagian revolusi mental, lho," katanya mengingatkan. (J Osdar)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Desember 2015, di halaman 2 dengan judul "Megawati: Jangan Menampar".

Sumber : Harian Kompas

Editor: Hasanudin Aco
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas