Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Pidato Jokowi di Paris Bikin Masyarakat Adat Terkejut

Pidato Presiden Joko Widodo di ajang KTT Perubahan Iklim di Le Bourget, Paris, Prancis mengejutkan komunitas mayarakat adat di Tanah Air.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Rendy Sadikin
zoom-in Pidato Jokowi di Paris Bikin Masyarakat Adat Terkejut
TRIBUNNEWS.COM/TRIBUNNEWS.COM/Rusman/setpres
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menko Polhukam Luhut Pandjaitan, Mensesneg Pratikno dan Kapolri Jenderal Pol. Badrodin Haiti, memberikan keterangan pers, sebelum menaiki pesawat kepresidenan untuk bertolak ke Paris, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (29/11). Kepala Negara beserta delegasi bertolak ke Paris, Perancis, untuk menghadiri KTT Perubahan Iklim atau Conference Of Parties (COP) ke-21. TRIBUNNEWS.COM/Rusman/setpres 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pidato Presiden Joko Widodo di ajang KTT Perubahan Iklim di Le Bourget, Paris, Prancis mengejutkan komunitas mayarakat adat di Tanah Air.

Pidato Presiden yang disampaikan di hadapan ratusan Kepala Negara itu, menurut Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Abdon Nababan sangat mengejutkan.

Sebab, Presiden memasukkan kalimat, "penanganan perubahan iklim dengan melibatkan masyarakat adat".

"Ini kejutan bagi kita semua, awalnya saya telah baca teks pidato Presiden yang banyak beredar, tak ada kata melibatkan masyarakat apalagi masyarakat adat. Namun saat Presiden pidato, kata itu muncul, ini kejutan sekali," kata Abdon di Paris, Senin (30/11/2015).

Menurut Abdon, pernyataan Presiden tersebut amat penting bagi Indonesia. Mengingat selama ini kontribusi masyarakat dan masyarakat adat sudah signifikan dalam mengurangi emisi karbon.

"Selama ini kontribusi masyarakat adat mengurangi emisi sudah banyak kita tahu hutan dan gambut yang terbakar selama ini paling sedikit di wilayah maayarakat adat. Jika ada itu sudah milik konsesi perkebunan," ujar dia.

Saat ini, kata dia, terdapat 40 juta hutan berada di wilayah masyarakat adat dari 50 juta hutan yang memiliki tutupan.

Rekomendasi Untuk Anda

"Hutan ini sudah lama dirawat masyarakat adat tinggal diproteksi saja, artinya 29 persen mengurangi emisi itu tidak sulit, masyarakat adat sudah melakukannya," tegas Abdon.

Tugas bersama masyarakat adat dan pemerintah ke depan adalah membereskan administrasi wilayah adat baik pemetaan wilayah adat, dan mengesahkan RUU perlindungan dan pengakuan masyarakat adat.

Pidato Presiden, menurut dia, sudah mencerminkan konsistensi Presiden pada Nawacita.

Singgung kebakaran hutan

Presiden Joko Widodo mendukung Kesepakatan Paris yang mencerminkan keseimbangan, keadilan, serta sesuai prioritas dan kemampuan nasional, mengikat, jangka panjang, ambisius, namun tidak menghambat pembangunan negara berkembang.

Dalam pidato di KTT Perubahan Iklim atau COP ke-21 di Paris, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebagai salah satu negara pemilik hutan terbesar yang menjadi paru-paru dunia, Indonesia hadir sebagai bagian dari solusi.

"Saya hadir di sini memberikan dukungan politik kuat terhadap suksesnya COP 21," ujarnya dalam bahasa Indonesia.

Menurutnya, Indonesia akan berupaya menurunkan emisi sebesar 29% pada 2030.

Penurunan itu dilakukan dengan mengalihkan subsidi bahan bakar minyak ke sektor produktif, meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan hingga 23% dari konsumsi energi nasional tahun 2025, dan mengolah sampah menjadi sumber energi.

Selain di bidang energi, Presiden Jokowi menyebut tata kelola lahan gambut sebagai upaya menurunkan emisi.

"Di bidang tata kelola dan sektor lahan melalui penerapan one map policy, menerapkan moratorium dan review izin pemanfaatan lahan gambut," katanya dalam pidato pada Senin (30/11).

Meski demikian, menurutnya, Kesepakatan Paris seharusnya tidak menghambat pembangunan negara berkembang.

Di sisi lain, dia mengingatkan negara maju untuk lebih berkontribusi "melalui mobilisasi pendanaan sebesar US$100 miliar hingga tahun 2020 dan ditingkatkan untuk tahun-tahun berikutnya."

Kebakaran hutan dan lahan

Pada pidato yang berlangsung hampir lima menit itu, Presiden Jokowi turut menyinggung kebakaran hutan dan lahan.

Namun, lepas dari faktor alam, dia tidak menyebut sama sekali mengenai pelakunya.

"El Nino yang panas dan kering telah menyebabkan upaya penanggulangan menjadi sangat sulit, namun telah dapat diselesaikan. Penegakan hukum secara tegas dilakukan," katanya.

Untuk mencegah kebakaran terulang, presiden menyebut restorasi eksosistem lahan gambut dengan pembentukan badan restorasi gambut sebagai langkah antisipasi.

Sebelumnya, organisasi lingkungan hidup, World Resources Institute, mengutip hasil penelitian Guido van der Werf dari Global Fire Emissions Database yang menyatakan emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah mengalahkan rata-rata emisi karbon harian Amerika Serikat.

Menurut data tersebut, hanya dalam 26 hari saja emisi dari kebakaran hutan dan lahan mencapai 1.043 juta metrik ton, atau melebihi emisi karbondioksida Amerika Serikat dalam satu tahun terakhir.

Padahal selama ini AS adalah penyumbang gas rumah kaca terbesar kedua setelah Cina, dan ekonominya 20 kali lebih besar daripada Indonesia.

KOMPAS.com/BBC

Sumber: Kompas.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas