Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dokter Tidak Terlibat Dalam Pembelian Obat

gratifikasi berbentuk sponsorship tidak akan membuat dokter, memprioritaskan obat produksi perusahaan farmasi

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Dokter Tidak Terlibat Dalam Pembelian Obat
THINKSTOCKPHOTOS
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan TRIBUNnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --- Walaupun dokter menerima gratifikasi dari perusahaan farmasi, namun dokter wajib menjaga kemandiriannya ujar Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ilham Oetama Marsis.

Ketua Umum IDI juga memastikan, gratifikasi berbentuk sponsorship tidak akan membuat dokter, memprioritaskan obat produksi perusahaan farmasi pemberi sponsor.

"Dokter tidak terlibat pengadaan, itu soal obat ada di bagian pengadaan," ujar Ilham Oetama Marsis kepada wartawan, di sekretariat IDI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/2/2016).

Selain itu, pihak rumah sakit juga tidak bisa sembarangan membeli obat. Karena mayoritas pasien saat ini adalah peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), maka obat yang ditanggung BPJS, adalah obat yang ada di daftar e-katalog Formularium Nasional (Fornas).

Justru buka kepada pasien BPJS direkomendasikan obat yang tidak tertera di Fornas, pihak rumah sakit akan merugi, karena obat itu tidak ditanggung BPJS.

Namun demikian, ia akui untuk dokter-dokter yang membuka praktik pribadi, terdapat banyak celah untuk ia menentukan obatnya sendiri. Ia berjanji akan membahas hal tersebut di internal IDI.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketua Departemen Organisasi IDI, Mahesa Paranadipa, dalan kesempatan yang sama menambahkan bahwa dalam memberikan resep, dokter wajib mempertimbangkan diagnosis, dosis, manfaat dan konsekuensi biaya.

"Tapi kita tahu ada masyarakat yang tidak mau menerima obat generik," ujarnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas