Tribun

Konflik PKS

Pencopotan Fahri Karena Bukan Gerbong Sohibul Iman

Menurut Siti, langkah itu bisa berdampak positif buat PKS dan bisa juga negatif.

Penulis: Johnson Simanjuntak
Pencopotan Fahri Karena Bukan Gerbong Sohibul Iman
Tribunnews.com/Amriyono Prakoso
Peneliti LIPI SIti Zuhro 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai hanya ada satu alasan dicopotnya Fahri Hamzah sebagai kader di semua tingkatan oleh PKS selain bahwa Fahri bukanlah pendukung rezim penguasa PKS saat ini.

Dalam logika kekuasaan seperti ini, maka logika kompetensi, integritas ataupun kualitas tidak menjadi hitungan.

“Satu-satunya alasan pencopotan  Fahri dari semua tingkatan keanggotaan di PKS adalah karena Fahri dianggap pendukung utama rezim sebelumnya dan bukan pendukung penguasa PKS saat ini. Dalam logika kekuasaan saat ini maka logika komptensi, logika integritas dan logika kualitas dari seorang kader tidak pernah jadi pertimbangan. Ketika saya naik, kamu tidak mendukung saya, maka tidak akan diakomodir,” ujar Siti Zuhro di Jakarta, Senin (4/4/2016).

Menurut Siti, langkah itu bisa berdampak positif buat PKS dan bisa juga negatif.

Positif jika langkah PKS ini bisa menempatkan kader PKS lainnya yang memiliki kualitas minimal sama dengan Fahri dan jika langkah ini direspon positif bukan hanya buat kalangan internal PKS namun juga eksternal atau masyarakat utamanya para pemilih PKS.

“Namun langkah ini  bisa menjadi blunder kalau ternyata kekuatan faksi, Anis Matta yang didalamnya termasuk Fahri masih kuat dan jika orang yang menggantikan Fahri memiliki kualitas dibawah Fahri.Tentunya  langkah ini akan  menjadi masalah buat PKS karena PKS akan berhadapan tidak hanya oleh anggota faksi Anis Matta tapi juga oleh pihak eksternal,” ujarnya.

Jika  Fahri dan faksi Anis Matta  memutuskan melawan keputusan DPP PKS maka yang akan dilawan tentunya adalah kultur di PKS sendiri, dimana Dewan Syuro memiliki kekuatan yang absolut dan tidak bisa dilawan.

Hal ini menurutnya tidak akan mudah mengingat kultur PKS hampir tidak ada yang pernah melakukannya.

“Tapi apa yang dilakukan oleh Dewan Syuro melalui Majelis Tahkim memecat Fahri Hamzah pun bukan kultur di PKS. Selama ini tidak pernah terdengar ada faksi-faksi di PKS seperti yang terjadi saat ini. Bahkan di era Anis Matta baik sebagai sekjen maupun presiden, mereka yang kini berkuasa tidak pernah disingkirkan meski berbeda faksi dan bahkan mendapatkan kursi kekuasaan,” katanya.

Sebenarnya, menurut Siti kehebohan di PKS ini tidak perlu terjadi kalau masing-masing pihak bisa menjelaskan dan menerima fakta politik.

DPP PKS tidak perlu bersusah payah mencari-cari kesalahan Fahri Hamzah karena ini mungkin akan sulit ditemukan mengingat citra Fahri yang selama ini meski bersuara keras namun bersih.

“DPP PKS seharusnya tidak perlu mencari-cari kesalahan Fahri karena jangankan orang yang tidak bersalah dituduh melakukan kesalahan, orang yang bersalah saja pasti akan melawan. Seharusnya kalau memang mau melengserkan Fahri cukup dengan rotasi biasa saja tanpa harus menuduh pihak lain bersalah,” katanya.

Fahri  pun menurutnya seharusnya menyadari bahwa dalam politik, kalau kita tidak termasuk dalam gerbong penguasa kita tersingkir.

”Jadi tidak perlu melawan, ini  konsekuensi dalam berpolitik. Kalau kita masuk gerbong kekuasaan maka kita akan menjadi penguasa, kalau tidak yah kita hanya jadi pengikut dan penonton saja,” ujarnya.

Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas