Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Hasil Autopsi Muhammadiyah, Siyono Diduga Disiksa Densus 88, Komnas HAM Tunggu Respon Kapolri

Pasalnya, hasil autopsi menunjukan kematian Siyono akibat tindak kekerasan dan penyiksaan.

Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Hasil Autopsi Muhammadiyah, Siyono Diduga Disiksa Densus 88, Komnas HAM Tunggu Respon Kapolri
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas (tengah), Ketua tim dokter forensik dr Gatot Suharto SpF (kiri) serta Komisioner Komnas HAM Siane Indriani (kanan) menunjukkan uang senilai Rp100 juta yang sebelumnya diserahkan Polisi kepada keluarga jenazah terduga teroris asal Klaten Siyono, saat berlangsung pemaparan hasil autopsi di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (11/4/2016). Hasil autopsi diantaranya yaitu sebelumnya belum pernah dilakukan autopsi terhadap jenazah dan kematian Siyono disebabkan benda tumpul yang dibenturkan ke bagian rongga dada hingga membuat tulang dada patah ke arah jantung. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komnas HAM masih menunggu respon kepolisian terkait hasil otopsi jasad terduga teroris asal Klaten, Siyono.

Ketua Komnas HAM Imdandun Rahmat mengatakan sejauh ini langkah yang dilakukan kepolisian hanya terkait etik.

"Kita menunggu respon kepolisian untuk memastikan apakah clue dari Komnas HAM dari hasil otopsi akan ditindak lanjuti pemeriksaan pidana atau tidak. Paling tidak harus ada pemeriksaan pidana," ujar Imdandun di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (12/4/2016).

Ia mengatkan hasil autopsi baru diserahkan PP Muhammadiyah kepada Komnas HAM.

Sehingga, pihaknya belum menyampaikan kepada Kapolri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti.

"Ini kan join, enggak tahu saya apa PP Muhamadiyah kasih ke Polri atau tidak," katanya.

Imdandun menuturkan pihaknya telah melayangkan surat kepada Kapolri untuk bertemu membahas hasil autopsi.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia berharap agar anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror yang menjadi pelaku, menjalani pemeriksaan pidana.

"Ada, saya sudah kirim surat. tunggu jadwal dan balasan dari Kapolri dulu. Ya, saya kira kita tetap konstruktiflah, kita tidak mau ambil jalan abis abisan zero sum game, karena Indonesia butuh Densus yang diberi mandat untuk proteksi Terorisme," imbuhnya.

Imdandun juga meminta DPR meningkatkan pengawasannya serta tekanan politik agar kepolisian serius membenahi Densus 88.

"Ini untuk memaksa kepolisian secara lebih tersistem dan mendalam dalam melakukan pembenahan kedalam. Karena ini sudah lama," katanya.

Menurutnya, dengan pertemuan antara Komnas HAM dan kepolisian akan membuka kasus kematian Siyono.

Pasalnya, hasil autopsi menunjukan kematian Siyono akibat tindak kekerasan dan penyiksaan.

"Terdapat kejanggalan pelaksanan tugas kepolisian. Komnas HAM menemukan ada cenderung ditutupi dengan menunda status kematian Siyono," imbuhnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas