Tribun

Prahara Partai Golkar

Beberapa Faktor yang Menentukan Menuju Kursi Golkar 1

Menjelang berlangsungnya Munaslub Golkar, sinyal perseteruan di internal partai berlambang pohon beringin itu terus memanas.

Penulis: Muhammad Zulfikar
Editor: Sanusi
Beberapa Faktor yang Menentukan Menuju Kursi Golkar 1
TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
Ade Komarudin berbincang dengan sesama anggota Partai Golkar saat acara deklarasi calon ketua umum Partai Golkar di Alun-Alun Utara, Kota Yogyakarta, Jumat (11/3/2016). Dalam acara yang dihadiri oleh para petinggi, anggota DPR RI Partai Gokar dan para sesepuh Partai Golkar tersebut mendeklarasikan Ade Komarudin untuk maju menjadi salah satu calon ketua umum Partai Golkar. TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjelang berlangsungnya Munaslub Golkar, sinyal perseteruan di internal partai berlambang pohon beringin itu terus memanas.

Setiap kubu akan saling menyudutkan sebagai upaya masing masing kubu membangun opini publik.

Penilaian negatif terhadap calon-calon akan terus disuarakan oleh kelompok yang tidak menghendaki kepemimpinannya.

Misalnya, sebagian kader golkar berpandangan kandidat tidak layak menjadi ketua umum Golkar karena beban moral yang dipikulnya.

Menurut, Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago ‎menilai ada beberapa faktor yang menentukan (determinan) calon ketua umum Golkar menang dalam Munaslub Golkar yang akan datang.

Pertama, kedekatan dengan ketua umum Aburizal Bakrie salah satu faktor yang ikut menentukan terpilih atau tidaknya jadi Ketum Golkar.

Hubungan kandidat ketua umum Golkar, Ade Komarudin sempat disharmonis dengan Ical, soal materai yang sudah ditanda tangani Akom bahwa konsisten tidak akan maju jadi ketua umum Golkar kalau terpilih menjadi ketua DPR.

"Namun belakangan Akom membantah bahwa ia tidak pernah membaca perjanjian di atas materai tersebut. Nuansa kebatinan Ical sempat terganggu dengan Akom. Pertanyaan mendasar yang mesti dijawab, Ical lebih percaya dan dekat ke siapa? Tentu saja Ical ngak mau kehilangan pesona, siapapun ketua umumnya, pengaruhnya tetap tidak mau luntur di Golkar," kata Pangi, Kamis (28/4/2016).

Faktor kedua yang membuat bakal calon Ketum Golkar memiliki peluang pimpin Golkar adalahh memiliki kemampuan berkomunikasi, membuat suasana satu chemistry, nampak tak ada jarak, kedekatan dengan DPD 1 dan DPD 2, sebagai peserta penuh tak bisa dipandang remeh, bagaimana kemampuan calon ketua umum mempengaruhi dan memperoleh dukungan dari DPD 1 dan 2.

"Ketiga, seberapa jauh kedekatan calon ketum Golkar dengan pemerintah, ini juga sangat penting. Pemerintah punya kepentingan, ketum Golkar bagian yang tak terpisahkan dari kehendak pemerintah, sama halnya dengan ketua DPR. Kuat kuatan berkomunikasi dengan penguasa dan kemampuan mengakses saluran kekuasaan bisa memuluskan jadi Ketum Golkar," ujarnya.

Sementara itu faktor keempat lanjut Pangi adalah didukung oleh para penisepuh Golkar dan juga didukung oleh beberapa organisasi sayap golkar (onderbouw) seperti Soksi, Kosgoro, MKGR, AMPG, AMPI. Faktor di atas juga menentukan terpilihnya ketua umum Golkar.

Kelima, Selain itu ada variabel lain yakni pembentukan opini publik dan image building bisa mempengaruhi pemilih dan membangun opini negatif terhadap kandidat lain akan menjadi saingan di arena pemilihan.

Terakhir, instrumen jitu dalam setiap Munasparpol yakni kekuatan finansial seperti amunisi politik. Bau amis politik uang masih kental dalam setiap kontestasi Munas. Semoga Munaslub Golkar lepas dari jeratan mahar politik transaksional dan pragmatisme.

"Munas adalah forum musyawarah sebagai lembaga pengambilan keputusan tertinggi dalam sebuah organisasi," tandasnya.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas