Tribun

Reshuffle Kabinet

Jokowi Harus Tahan Hadapi Sri Mulyani

Sejumlah target dalam kebijakan ekonomui yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo teralalu optimis sehingga sulit direalisasikan.

Editor: Adi Suhendi
zoom-in Jokowi Harus Tahan Hadapi Sri Mulyani
Tribunnews.com/ Nurmulia Rekso Purnomo
Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, dalam diskusi di Veteran Cafe, Jakarta Pusat, Senin (1/8/2016). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah target dalam kebijakan ekonomui yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo teralalu optimis sehingga sulit direalisasikan.

Menurut Ekonom Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri, keadaan bertambah buruk ketika pembantu-pembantu presiden gagal untuk mengingatkan presiden soal itu.

Ia mencontohkan dengan target bahwa pada bulan ramadhan kemarin, harga daging sapi harus ditekan di bawah Rp 80 ribu.

Namun, kenyataannya harga daging sapi tidak pernah bisa ditekan bahkan sampai di bawah Rp 100 ribu sekalipun.

"Ya delapan puluh ribu itu tetelan, itupun harus impor, yang kata menterinya itu makanan anjing," ujar Faisal Basri dalam diskusi di Veteran Cafe, Jakarta Pusat, Senin (1/8/2016).

Padahal Menteri Pertanian Amran Sulaiman seharusnya mengingatkan target yang sulit untuk dicapai itu.

Sehingga pemerintah tidak terlalu kehilangan muka di mata masyarakat.

Hal yang sama juga harusnya dilakukan Amran saat Presiden membangun tol laut yang direalisasikan melalui kapal khusus pengangkut ternak dari NTT ke Jakarta.

Padahal kebutuhan warga Jakarta adalah sekitar 750 ekor sapi perhari dan kapal khusus ternak itu hanya bisa mengangkut 150 ekor sapi sekali jalan.

Ketika Presiden menargetkan penerimaan pajak naik sebesar 30 persen, seharusnya Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengingatkan.

Kenyataannya target tersebut sulit untuk dikejar, sekalipun pertumbuhan ekonomi Indonesia terdongkrak.

Alhasil target tersebut pun tidak tercapai.

Ia mengaku curiga, bahwa kegagalan untuk mencapai target penerimaan pajak akibat taraget yang terlalu tinggi itu, telah membuat pemerintah secara terpaksa mengambil kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty.

Ditargetkan dengan adanya Tax Amnesty pemerintah dapat meraup Rp 165 triliun.

"Itupun saya pesimis sembilan puluh lima persen tercapai," katanya.

Kata dia, Jokowi dikelilingi menteri-menteri yang enggan melawan sang Presiden, bila kepala negara menetapkan target yang terlalu tinggi.

Namun, dengan hadirnya Sri Mulyani menggantikan Bambang Brodjonegoro, diharapkan keadaan akan berubah.

"Bu Sri Mulyani tipenya bukan seperti itu, bisa mengatakan kata tidak, pertanyaannya apakah pak Jokowi siap di chalange (red: ditantang) oleh menterinya," ujar Faisal.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas