Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pengakuan Freddy Budiman

PPATK Temukan Transaksi Narkoba Rp 2,8 Triliun Diduga terkait Sindikat Pony Tjandra

Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan transaksi narkoba sebesar Rp 2,8 triliun.

PPATK Temukan Transaksi Narkoba Rp 2,8 Triliun Diduga terkait Sindikat Pony Tjandra
TRIBUNNEWS.COM/ADI SUHENDI
Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) mengamankan Pony Tjandra (47) Napi LP Cipinang yang diduga kuat sebagai bandar narkoba sekaligus terlibat dalam kejahatan pencucian uang, pada 25 September 2014, di Perumahan Pantai Mutiara Blok R No.21 Pluit Jakarta Utara. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan transaksi narkoba sebesar Rp 2,8 triliun.

Temuan itu bermula dari laporan hasil analisis (LHA) Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pada 21 Maret 2016 lalu.

Temuan transaksi itu lebih kecil dari LHA PPATK yang mencurigai dana terkait hasil narkotika mencapai Rp 3,6 triliun.

"Kasus Rp 3,6 triliun itu terkait dengan sindikat atas nama Pony Tjandra. Ini sedang berjalan, dan sudah tiga orang dilakukan penangkapan dan penahanan. Kami juga sudah menyita uang dan barang bergerak lainnya," kata Deputi Pemberantasan BNN, Amran Depari saat konferensi pers di Kantor BNN, Jakarta, Jumat (19/8/2016).

Menurutnya, dana hasil transaksi narkotika itu diperkirakan berlangsung sejak 2014 hingga 2015. Sejumlah uang mengalir ke 32 bank, dan beberapa perusahaan baik di dalam negeri maupun sejumlah negara di Eropa dan Asia.

"Bisnis yang mengaburkannya banyak. Ada pabrik yang tidak aktif, ekspor-impor fiktif, sampai money changer. Tapi belum saatnya kami sampaikan di mana saja uang tersebut disimpan dan siapa saja tiga orang yang kami tahan terkait Poni Chandra ini," urainya.

Ia menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan beberapa negara. Sejumlah data pun diberikan kepada penegak hukum demi mencokok pelaku terkait jaringan narkoba di Indonesia.

"Perbedaan hukum dengan negara berbeda ini jadi hambatan. Tidak semua negara kooperatif untuk menyelidiki hal ini. Kami berusaha menjalin kerja sama untuk menuntaskan kasus ini," paparnya.

Pony Tjandra merupakan terpidana kasus penyelundupan ribuan butir ekstasi. Ia dihukum penjara seumur hidup. Jaksa sempat menuntut mati Pony Tjandra pada September 2006, tetapi hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) hanya memvonis 20 tahun.

BNN lalu menyeret Pony dengan UU TPPU dan Rp 600 miliar aset Pony disita untuk negara. Namun, Pony kemudian terungkap memiliki jaringan dengan total transaksi sekitar Rp 2,8 triliun. BNN menyita mobil Jaguar dan tiga motor Harley.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Wahyu Aji
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas