Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Mental Bangsa Dimulai dari Buku Terbitan 20 Tahun Lalu

Dengan mereview semua buku terbitan 20 tahun lalu, bangsa ini akan menemukan akar permasalahan yang sekarang dihadapi.

Mental Bangsa Dimulai dari Buku Terbitan 20 Tahun Lalu
Istimewa
JB Priyono, mantan Direktur Penerbitan Penerbit Kanisius Yogyakarta. 

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Mental bangsa seperti apa yang akan ditanamkan kepada generasi penerus bisa dilihat dari buku-buku yang terbit ketika anak-anak masih dalam fase belajar.

Penerbit berperan penting dan sekaligus bertanggungjawab dalam pendidikan serta perkembangan pendidikan mental bangsa. Penerbit tak boleh berperilaku seperti toko buku yang sering mengabaikan konten buku.

Demikian diungkapkan mantan Direktur Penerbitan Penerbit Kanisius Yogyakarta, JB Priyono Hadi, dalam pertemuannya dengan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro di Yogyakarta, Jumat (6/1/2017).

Penerbit Kanisius Yogyakarta adalah penerbit tertua di Indonesia yang berdiri pada 26 Januari 1922.

Dijelaskan Priyono, semua anak akan mengalami fase belajar. Dalam fase ini yang paling banyak menjadi sorotan orang tua adalah membaca karena di situlah pintu gerbang utama anak untuk memasuki dunia luas.

Kekeliruan menghidangkan konten buku bacaan kepada anak akan berdampak panjang pada pendidikan serta perkembangannya kelak yang juga berdampak pada masa depan bangsa.

“Semua anak di mana pun akan dan harus belajar membaca. Dengan membaca itulah, pintu gerbang dunia luas terbentang," ungkap dia.

"Namun yang menjadi permasalahan adalah, buku apa yang dibaca dan apa isinya? Pemerintah dan tokoh nasional harus peka soal ini karena terkait dengan masa depan bangsa dan negara. Penerbitan buku bukan soal proyek tetapi soal masa depan bangsa,” ia menambahkan.

Saat ini bangsa Indonesia resah akan masa depannya. Maka pertama kali yang harus dilakukan adalah melihat kembali terbitan buku anak-anak sekolah setidaknya dalam dua dasa warsa terakhir.

Atau juga orangtua yang resah dengan perkembangan anak-anaknya ketika menginjak masa akil balig, disarankan Priyono, untuk melihat kembali buku-buku apa saja yang sudah dibaca sejak pendidikan taman kanak-kanak.

Priyono meyakini, dengan mereview semua buku terbitan 20 tahun yang lalu, bangsa ini akan menemukan akar permasalahannya yang sekarang dihadapi.

“Apa yang dibaca oleh anak ketika masih tahap belajar akan tertanam selama pertumbuhannya dan menjadi pegangan dalam pendidikan selanjutnya. Keprihatinan terjadi ketika konten kemudian menjadi tidak penting ketika penerbitan sebuah buku menjadi sebuah proyek. Atau juga, pemerintah atau instansi terkait tidak memberi pengawasan secara benar atas sebuah naskah yang diterbitkan. Tanpa disadari, masa depan bangsalah yang sebenarnya dipertaruhkan. Dan ini merupakan awal dari seluruh permasalahan bangsa ini dalam 20 tahun kemudian,” ujar dia.

Dijelaskan Priyono, permasalahan serius muncul ketika penerbit berperilaku seperti toko buku yang dipatok oleh target dan kemudian melakukan berbagai strategi pemasaran berbasiskan target rupiah.

Penting bagi sebuah penerbit memiliki dan berpegang teguh pada visi misi untuk ikut mencerdaskan dan sekaligus dalam pembangunan mental bangsa.

“Visi misi itu merupakan komitmen. Oleh karena itu, visi misi itu harus dipegang teguh oleh generasi baru pengambil keputusan sebuah institusi penerbitan," tegas dia.

Menurut Priyono, hanya dengan cara demikian, sebuah penerbitan ikut serta dalam pembangunan mental bangsa.

"Jika hal itu tidak dilakukan, sebuah buku hanya akan menjadi sebuah proyek dan kelak kemudian masa depan bangsa yang dipertaruhkan,” ungkap pria yang sederhana ini.

Ikuti kami di
Penulis: Y Gustaman
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas