Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Imigrasi Amankan 32 Perempuan Asing yang Bekerja Sebagai PSK

Dari informasi awal yang dikumpulkan, mereka yang rata-rata berumur 21 - 38 tahun itu, di Indonesia bekerja sebagai pemandu karaoke dan PSK.

Imigrasi Amankan 32 Perempuan Asing yang Bekerja Sebagai PSK
Nurmulia Rekso Purnomo/Tribunnews.com
Puluhan perempuan asing yang diduga bekerja sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK), tengah dihadirkan dalam konfrensi pers di Kantor Ditjen Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta Selatan, Jumat (13/1/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Jendral (Ditjen) Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), berhasil mengamankan 32 orang perempuan asing, yang diduga menyalahgunakan visa kunjungan untuk bekerja di Indonesia sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK).

Dari operasi yang di gelar pada pekan kedua tahun 2017 di tempat hiburan di wilayah Jakarta dan Bogor, tim pengawas dan penindakan (Wasdakim) Orang Asing Ditjen Imigrasi berhasil mengamankan perempuan dari vietnam sebanyak 11 orang, perempuan dari Kazakhhstan 5, Uzbekistan 5 orang, Tiongkok 5 orang, Maroko 5 orang dan Russia 1 orang.

Direktur Wasdakim, Ditjen Imigrasi, Yurod Saleh, dalam konfrensi persnya di kantor Ditjen Imigrasi, Jakara Selatan, Jumat (13/1/2017), mengatakan bahwa dari lokasi mereka ditemukan yakni tempat hiburan, dan barang bukti sejumlah alat kontrasepsi, diduga mereka bekerja sebagai wanita penghibur.

"Terkait alat kontrasepsi, diduga mereka sebagai PSK, tapi ini semua masih kita dalami," ujarnya.

Dari informasi awal yang dikumpulkan, mereka yang rata-rata berumur 21 - 38 tahun itu, di Indonesia bekerja sebagai pemandu karaoke dan PSK.

Tarif mereka antara Rp 1.750.000 hingga Rp.4000.000.

Alat bukti lain yang berhasil diamankan pihak Imgirasi selain alat kontrasepsi antara lain paspor puluhan perempuan yang diamankan itu, sejumlah uang asing dan alat komunikasi, serta sejumlah bukti pembayaran yang dikeluarkan tempat hiburan malam senilai Rp 5.000.000.

32 perempuan berpenampilan menarik itu diduga melanggar Undang-Undang nomor 6 tahun 2011 tentang keimigrasian, pasal 116 bagi perempuan yang tidak bisa menunjukan paspor saat diminta, dan pasal 112 bagi yang menyalahgunakan izin tinggal.

Ancaman maksimal mereka adalah penjara lima tahun.

"Kita lihat pelanggarannya apa, kalau pidana atau administrasi, kalau administrasi ini mereka bisa dideportasi," katanya.

Sayangnya dalam operasi tersebut belum ada pihak penyalur perempuan-perempuan tersebut, maupun pengelola hiburan malam tempat mereka bekerja yang ditindak.

Yurod Saleh mengatakan pihaknya masih mendalami keterlibatan pihak lain.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas