Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Politikus Gerindra Nilai Wajar SBY Mengeluh dan Kecewa di Twitter

"Saya rasa wajar saja Pak SBY mengeluh dan kecewa di twitter sebagai orang yang pernah memimpin negara ini,"

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Politikus Gerindra Nilai Wajar SBY Mengeluh dan Kecewa di Twitter
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono menilai cuitan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan bentuk kekecewaan.

Hal itu terkait masalah bangsa dan negara.

"Saya rasa wajar saja Pak SBY mengeluh dan kecewa di twitter sebagai orang yang pernah memimpin negara ini," kata Arief melalui pesan singkat, Minggu (22/1/2017).

Menurut Arief, penyelesaian masalah sosial politik yang dilakukan SBY dengan Presiden Jokowi jauh berbeda.

SBY sekalipun seorang yang berlatar belakang militer tapi meyelesaikannya bukan dengan cara represif main tangkap dan tahan.

Menurut dia, saat SBY berkuasa berita hoax dan fitnah banyak.

Rekomendasi Untuk Anda

Seperti SBY siiaukan sudah menikah dan punya anak sebelum dengan Ani Yudhoyono kemudian ada juga isu gulingkan SBY.

Baca: Tanggapi Kicauan SBY, Jokowi: Tidak Perlu Banyak Keluhan Menurut Saya

"Tapi semua didengar dan diatasi dengan bijak oleh SBY sehingga tidak mengarah pada perpecahan anak bangsa," jelasnya.

Arief mengatakan tidak ada satupun aktivis buruh yang melakukan aksi demo menuntut haknya diera SBY di bawa ke meja hijau.

Sedangkan zaman Joko Widodo, sebanyak 26 aktivis buruh hampir saja terancam dipenjara.

Untung hakim masih bijak dan baik sehingga memvonis bebas.

"Kasihan akhirnya institusi Polri akibat tekanan dari Joko Widodo dan antek-anteknya akhir di bentrokan dengan masyarakat serta menarik Polri untuk berpolitik seperti TNI saat orde baru," ujar Arief.

Arief menilai hoax yang meyebar tidak lepas dari macetnya saluran komunikasi yang dibangun Joko Widodo dengan masyarakat.

Terutama kelompok masyarakat yang tidak berkecimpung di partai politik yang sebenarnya memiliki pengaruh lebih besar dari partai, seperti serikat buruh dan ormas.

Menurut dia, keadaan sekarang seperti lahirnya sentimen anti RRC dan propaganda hitam tidak terlepas dari permasalahan yang ditinggalkan Pemerintahan SBY.

"Semua tidak lepas dari pemerintahan yang dipimpin SBY selama 10 tahun terakhir yang banyak meninggalkan masalah sosial, politik dan ekonomi yang harus dijalankan Joko Widodo dengan kemampuan terbatas," kata dia.

Arief menduga Jokowi akhirnya menggunakan jalan represif dan pintas dengan menabrak semua aturan dalam membuat kebijakan ekonomi, politik dan sosial.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Demokrat Roy Suryo membenarkan cuitan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di akun twitter resminya @SBYudhoyono.

"Ya memang benar, tweet dari Pak SBY itu sangat singkat tetapi padat, sangat bermakna," kata Roy ketika dikonfirmasi Tribunnews.com, Jumat (20/1/2017).

Roy mengatakan SBY bila menulis sesuatu di twitter sudah paripurna sehingga tidak perlu ditafsirkan apalagi ditambahi.

"Mari kita semua Introspeksi terhadap apa yg sudah dituliskan oleh beliau dalam twit tersebut," kata Mantan Menpora itu.

Diketahui, cuitannya, SBY mempertanyakan kondisi negara dan berita- berita "hoax".

"Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru Fitnah 7 penyebar "hoax"berluasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang? *SBY*,"cuitnya, Jumat (20/1/2017).

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas