Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kerusakan Akibat Pelecehan Seksual Seperti Ditabrak Bus

Kasus paedofil di Jakarta menjadi sorotan pemerintah, terutama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Kerusakan Akibat Pelecehan Seksual Seperti Ditabrak Bus
KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFAR
Rilis kasus pornografi anak di Facebook dengan empat orang tersangka yang ditangkap, di Mapolda Metro Jaya, Selasa (14/3/2017). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kasus paedofil yang dilakukan oleh empat pria di Jakarta menjadi sorotan pemerintah, terutama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pribudiarta Nur menjelaskan, kerusakan yang ditimbulkan akibat pornografi semisal paedofil diibaratkan seperti korban kecelakaan ditabrak bus.

"Kerusakan yang ditimbulkan akibat pornografi seperti ditabrak bus," ujar Pribudiarta di Jakarta, Rabu (15/3/2017).

Dia menjelaskan, otak bagian depan atau prefrontal cortex yang akan rusak karena pornografi. Sehingga, pelaku atau korban pelecehan seksual yang terjangkit kerusakan otak tersebut akan kecanduan.

Sama halnya, bagaimana pengguna narkotika dan obat-obatan menjadi kecanduan. Terutama, bila kerusakan otak itu, menimpa anak-anak di bawah umur, seperti para korban jaringan paedofil, Official Loli Candy’s Group, yang masih di bawah umur 12 tahun.

"Kecuali orang dewasa, yang bisa menghapus (memori) cepat. Buat anak susah. Prefrontal cortex yang bisa membedakan itu, kalau rusak tidak bisa bedain itu," ujar Pribudiarta.

Untuk menjamin anak-anak korban pelecehan seksual bisa sembuh dari trauma, dibutuhkan rehabilitasi berkelanjutan. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, biaya yang dikeluarkan untuk rehabilisa cukup besar.

"Rehabilitasi untuk korban pornografi itu, sangat berat sekali sama seperti kita menangani korban narkoba. Dan biayanya mahal harus dihilangkan kecanduannya," ujar Pribudiarta.

Sebelumnya, empat admin tersangka pengelola grup Facebook berisi foto dan video pornografi diperlihatkan tim siber Kepolisian Daerah Metro Jaya kepada media, Selasa (14/3/2017).

Jaringan paedofil, Official Loli Candy’s Group memiliki anggota 7.479 orang lintas negara. Para tersangka yang ditangkap adalah W (27), DF (17), DS (24), dan SH (16). Mereka membuat grup di Facebook pada September 2016.

Tak hanya sebagai admin, tersangka W melakukan pelecehan seksual terhadap dua anak berusia 8 dan 12 tahun di Malang, Jawa Timur.

Sementara tersangka DF melakukan pelecehan seksual terhadap enam anak berusia 3-8 tahun di Bogor dan Jakarta Timur. Perbuatan W dan DF itu, diabadikan dengan foto dan direkam video, kemudian diunggah ke grup Facebook.

Keempat tersangka ditangkap pasa 7-9 Maret di tempat terpisah. Tersangka W ditangkap di Malang, DF di Bogor, SH di Tangerang, dan DS di Tasikmalaya. Mereka memperoleh 15 dollar AS atau sekitar Rp200 ribu dari setiap pengunjung grup.

Saat ini, Polda Metro Jaya menjalin kerja sama dengan Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) untuk membuka data grup Facebook yang sudah ditutup tersebut. Pasalnya, menurut pengakuan tersangka, masih banyak grup serupa dengan asal negara yang beragam.

Ikuti kami di
Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Malvyandie Haryadi
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas