Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Generasi Milenial Suka Pemimpin yang Tidak Jaim dan Bisa Dicengin

Sosok Jokowi yang luwes apa adanya, kata Benny, sangat diterima di kalangan generasi milenial.

Generasi Milenial Suka Pemimpin yang Tidak Jaim dan Bisa Dicengin
PRESIDENTIAL PALACE/AGUS SUPARTO
Presiden Joko Widodo melepaskan berbagai jenis burung dan kodok di sela waktu senggangnya di Komplek Kebuk Raya Bogor, Minggu (3/1/2015). Pelepasan berbagai binatang yang dilakukan Presiden usai mengikuti Car Free Day di Kota Bogor tersebut bertujuan untuk memperkaya ekosistem fauna di Kebun Raya Bogor. TRIBUNNEWS/PRESIDENTIAL PALACE/AGUS SUPARTO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat etika dan komunikasi politik Romo Benny Susetyo menilai, sosok Joko Widodo lebih melekat di benak generasi milenial Indonesia.

Sebabnya, generasi milenial memiliki parameter yang unik tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya bersikap.

"Generasi milenial suka dengan pemimpinnya tidak jaga image (Jaim), bisa dicengin (diledek). Mereka sangat suka pemimpin yang setara," ujar Benny dalam diskusi di Kantor PARA Syndicate, Jakarta Selatan pada Jumat (17/3/2017).

"Dalam hal ini, sosok Jokowi lebih disukai. Karena persepsi mereka itu, Jokowi bisa dicengin," lanjut dia.

Istilah dicengin atau dicela itu bukan dalam koridor sopan atau tidak sopan.

Namun lebih kepada sebuah hubungan yang luwes alias tidak kaku sehingga komunikasi bisa berjalan lancar, cenderung tak berbatas. 

Sosok Jokowi yang luwes apa adanya, kata Benny, sangat diterima di kalangan generasi milenial.

"Generasi milenial itu tak suka pemimpin yang terkesan moralitas, hard feeling. Pemimpin itu harus yang bisa diajak guyon, dia bisa dicengin tadi dan dapat dijadikan teman," ujar Benny.

Oleh sebab itu, ketika ada sosok pemimpin yang dipandang formal, kaku atau bahkan jaga image, Benny yakin generasi milenial bakal menolaknya.

"Ketika generasi milenial melihat pemimpin itu ideologistis, lalu komunikasinya bukan dialog tapi monolog. Oh bagi mereka itu utopis dan jauh dari harapan mereka," ujar Benny.(Fabian Januarius Kuwado)

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas