Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Membayar Tebusan Tidak Akan Menyelamatkan Data Anda Dari Virus Petya

Petya tidak bisa disamakan dengan Wannacry, yang jelas-jelas meminta uang kepada korban, agar data di komputernya bisa diakses kembali.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Willem Jonata
zoom-in Membayar Tebusan Tidak Akan Menyelamatkan Data Anda Dari Virus Petya
Tribunnews.com/Nurmulia Rekso Purnomo
Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara 

Lapaoran Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Virus Petya belum bisa disebut sebagai ransomeware atau perangkat lunak yang bertujuan melakukan pemerasan.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudianatara, protokol untuk memeras diduga tidak sempurna.

"Makanya kami sebut diduga ransomware," ujarnya kepada wartawan di Bakkoel Coffee, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, (30/6/2017).

Oleh karena itu, ia tidak bisa menyamakan Petya dengan Wannacry, yang jelas-jelas meminta uang kepada si korban, agar data di komputernya bisa diakses kembali. Sementara pada Petya, protokol tersebut tidak berjalan sempurna.

Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure Coordination Center (ID-SIRTII/CC), Bisyron Wahyudi, dalam kesempatan yang sama menambahkan bahwa korban virus Petya, akan diminta untuk membayar sebanyak 300 dollar Amerika Serikat (AS), dalam bentuk bitcoin.

Namun akses bagi si korban untuk berkomunikasi dengan si pelaku terputus, karena email si pelaku dalam banyak kasus sudah terblokir oleh otoritas yang berwenang.

Rekomendasi Untuk Anda

Dengan demikian akses komunikasi dari pelaku kepada korban untuk memberikan petunjuk menyelamatkan data, juga ikut terputus.

"Jangan sampai membayar, ini analisis juga, ketika yang membayar itu tidak bisa dilakukan dekripsi juga, karena email yang digunakan untuk komunikasi, si penajahat ini, email sudah diblokir, meskipun anda sudah bayar, tapi komunikasi pakai apa," katanya.

"Kami menduga ini kesalahan design si pembuat virus," ujarnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas