Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Masuk Fase Darurat, Pemerintah Diminta Petakan Persoalan Tata Kelola Sampah

Indonesia bahkan disebut-sebut tengah memasuki fase yang dinamai darurat sampah.

Masuk Fase Darurat, Pemerintah Diminta Petakan Persoalan Tata Kelola Sampah
nur ichsan/wartakota/wartakota
SAMPAH MEMBLUDAK - Mungkin karena petugas kebersihannya masih cuti lebaran, buangan sampah warga yang tak terangkut menumpuk di TPS liar , Rw 11, Kelurahan Duri Pulo, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/6). Keadaan ini membuat suasana di lokasi itu menjadi kumuh dan menimbulkan bau tak sedap. WARTA KOTA/Nur Ichsan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Permasalahan tata kelola sampah selalu menjadi hal yang terus dibicarakan karena merupakan perkara yang tidak mudah.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi sebuah negara, maka kompleksitas permasalahan sampah di dalamnya pun menjadi semakin rumit. Indonesia bahkan disebut-sebut tengah memasuki fase yang dinamai darurat sampah.

Ketua GREENERATION, Mohamad Bijaksana Junerosano mengatakan permasalahan sampah di Indonesia membutuhkan pengaturan peran antar lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat pada setiap siklus tahapannya, dimulai dari pembatasan timbulan, pendauran ulang,pemanfaatan kembali hingga penanganannya, yang meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir.

"Semua mempunyai fokus berbeda sesuai dengan perannya masing-masing. Namun pemerintah sebagai koordinator dan pembuat kebijakan harus dapat memetakannya secara holistik agar dapat menghasilkan kebijakan yang terintegrasi,"kata Junerosano dalam pernyataan persnya, Kamis(13/7/2017).

Sinta Kaniawati, Anggota PRAISE(Packaging and Recycling Alliance for Indonesia Sustainable Environment) menjelaskan bahwa faktor kunci dalam melahirkan solusi pengelolaan sampah, seperti halnya plastik bekas produk kemasan, terletak pada sinergi semua stakeholder untuk ikut terlibat dalam membangun tata kelola persampahan yang terintergrasi dan berkelanjutan.

Salah satu pendekatan yang harus dikembangkan lanjut Sinta adalah pengelolaan berkelanjutan melalui pendekatan Circular Economy (ekonomi melingkar), yang pada intinya bagaimana mengubah cara pandang terhadap plastik kemasan bekas pakai, tidak sebagai sampah, namun sebagai sebuah komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan.

Menurut Sinta, melalui pendekatan Circular Economy maka material kemasan bekas pakai, seperti halnya plastik kemasan, dapat terus dipertahankan nilainya serta dimaksimalkan penggunaannya melalui proses daur ulang (re-cyling), penggunaan kembali (re-use) ataupun produksi ulang (re-manufacture), sehingga selain menciptakan rantai ekonomi baru, juga akan meminimalisir beban lingkungan ke alam seperti tempat pembuangan akhir (TPA) atau bahkan lautan.

“Kita sering kali terjebak pada penyederhanaan masalah sampah, sehingga berujung pada solusi yang tidak terintegrasi dan bersifat sesaat. Terkait sampah plastik kemasan misalnya, rantai proses-nya cukup panjang dan merupakan hubungan sebab akibat yang kompleks. Dari sisi aktor yang terlibat, ada industri bahan baku dan industri pengguna kemasan, retailer, konsumen, hingga Industri daur ulang dan pengguna bahan daur ulang,"kata Sinta.

Circular Economy pada akhirnya kata Sinta tidak hanya berbicara soal nilai tambah bagi penyelamatan lingkungan, namun juga memiliki penciptaan nilai tambah ekonomi baru dan juga nilai tambah sosial, seperti halnya pemberdayaan masyarakat.

"Karena itu, jika diimplementasikan, maka menjadi sebuah solusi yang berkelanjutan,”ujar Sinta.

Halaman
12
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas