Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Akbar Tandjung: Jangan Samakan Kasus Saya Dulu dengan Setya Novanto

Akbar pernah tersangkut kasus 'Bulog Gate' saat menjabat sebagai Ketua Umum Golkar dan Ketua DPR.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Akbar Tandjung: Jangan Samakan Kasus Saya Dulu dengan Setya Novanto
KOMPAS IMAGES
Akbar Tandjung 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Dewan Kehormatan Golkar Akbar Tandjung menolak kasus yang pernah menimpanya disamakan dengan Setya Novanto.

Akbar pernah tersangkut kasus 'Bulog Gate' saat menjabat sebagai Ketua Umum Golkar dan Ketua DPR. Namun, partai berlambang pohon beringin itu justru memenangkan pemilu legislatif. 

"Ya saya kira kaitannya dengan penghormatan terhadap proses hukum, tidak ada berubah, prinsip praduga tak bersalah. Tapi kalau dilihat dari segi kasusnya, tentu berbeda. Sangat berbeda," kata Akbar di kediamannya, Jakarta, Minggu (24/7/2017) malam.

Akbar mengatakan kasus yang membelit Ketua Umum Golkar Setya Novanto terkait kasus e-KTP yang diduga merugikan negara sebesar Rp2,3 triliun. Novanto telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Sementara, kata Akbar, kasus yang menimpanya sebesar Rp. 40 miliar terkait dengan program mengenai pemberian sembako kepada rakyat. Mantan Ketua DPR itu menuturkan pemberian sembako itu dilakukan oleh yayasan. 

"Dimana yayasan itu juga mendapat rekomendasi dari pemerintah melalui pejabat menteri untuk diberi kesempatan pada mereka. Di situlah terjadi penyimpangan. Jadi kan beda sekali," kata Akbar.

Rekomendasi Untuk Anda

Akbar mengatakan dirinya tidak terkait dengan dana sebesar Rp40 miliar. Sebab, pelaksana pembagian sembako itu merupakan yayasan. "Jadi ya sangat berbeda lah," kata Akbar.

Mengenai situasi Partai Gollar yang memenangkan pemilu saat dipimpin langsung olehnya, Akbar mengatakan hal itu harus dilihat dari hasil survey saat ini.

"Kalau kita lihat semakin lama surveinya semakin turun, apa kita biarkan? Saya termasuk yang tidak membiarkan, kita harus mengambil langkah-langkah supaya tren menurun itu tidak terus berjalan. Kalau tren turun itu terus berjalan ya bisa jadi di bawah threshold," kata Akbar.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas