Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

'Meminang' Jenderal Gatot

Nama Panglima TNI Gatot Nurmantyo, terus disuarakan untuk bisa ikut dalam pertarungan Pilpres 201 mendatang.

'Meminang' Jenderal Gatot
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri (kanan) bersama Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (tengah), dan KASAL Laksamana TNI Ade Supandi (kiri) saat menghadiri acara pembekalan calon Perwira Remaja di Mabes TNI, Jakarta, Jumat (21/7/2017) lalu. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Nama Panglima TNI Gatot Nurmantyo, terus disuarakan untuk bisa ikut dalam pertarungan Pilpres 201 mendatang. Partai NasDem mewacanakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres).

Sementara Partai Amanat Nasional (PAN) kemungkinan meminang Panglima untuk dijadikan sebagai Calon Presiden (Capres)

NasDem mengaku belum berkomunikasi dengan partai lain. Anggota Dewan Pakar NasDem Taufiqulhadi mengungkapkan alasannya mewacanakan Jenderal Gatot sebagai Panglima TNI.

Ia menuturkan Indonesia sangat beragam dan luas dengan jumlah pulau yang besar. Sedangkan jumlah penduduk terbanyak berada di Pulau Jawa.

"Maka komposisi wapres yang ideal seperti sekarang misalnya,jawa luar jawa. Kemudian bisa juga dia adalah sipil militer. Nah, sipil militer itu menurut saya masih tetap kuat sekarang ini. Jadi selain Jawa, Luar Jawa, Sipil-Militer acceptable," kata Taufiqulhadi, Senin (24/7).

Partainya melihat sosok Gatot dapat mewakili kelompok militer. Sebab, komposisi Jawa-Jawa serta Militer-Militer tidak terlalu baik. "Kalau Jawa-Jawa tidak terlalu bagus, militer-militer tidak terlalu bagus dalam demokrasi sekarang," kata Taufiqulhadi.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan bahwa tidak etis bagi dirinya untuk berambisi menjadi orang nomor satu di Indonesia.  "Saya sekarang Panglima TNI, kan begitu. Menurut saya, bermimpi jadi presiden tidak etis," kata Gatot di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur (21/7) lalu.

Menurut Gatot, TNI berada di bawah komando presiden dan wakilnya. Oleh karena itu, menjadi tidak tepat jika dirinya ikut serta berniat menjadi pemimpin saat masih aktif menjabat panglima TNI.

"Komandan saya itu (Presiden), pimpinan saya itu Presiden sama Wakil Presiden. (Kalau jadi presiden) kemudian saya juga akan melangkahi Wakil Presiden, kan tidak etis," kata Gatot.

Sementara Partai Amanat Nasional (PAN) mengungkap, sosok Panglima TNI Gatot Nurmantyo menjadi figur alternatif yang dipertimbangkan jelang Pilpres 2019 mendatang. Ketua DPP PAN Yandri Susanto menjelaskan, rencana tersebut belum diputuskan dalam lingkup internal partai.

Yandri menyebut alasan memunculkan nama Gatot adalah, dari hasil survei kepemimpinan, muncul sosok dari kalangan militer.

"Salah satu survei kepemimpinan selama ini kan dari militer, dari tingkat disiplinnya, cinta tanah airnya, kapasitasnya, semuanya saya kira sudah lengkap," katanya.

"Tidak perlu diragukan lagi. Dan yang saya rasakan, ke Pak Jokowi masih ada kemungkinan, tapi tidak ke Pak Jokowi besar juga. Artinya, kita bisa berkoalisi dengan Gerindra, sangat mungkin, atau PAN memunculkan poros baru," ujarnya saat dihubungi wartawan.

Soal Panglima TNI, ia menjelaskan kembali, pencapaian seseorang yang telah menjabat panglima adalah pencapaian luar biasa. Itu menjadi ukuran yang objektif untuk menjadi pemimpin.

"Apalagi seseorang untuk mencapai panglima itu kan sungguh luar biasa tahapannya. Itu, menurut saya, ukuran yang sangat objektif untuk orang itu layak atau nggak jadi pimpinan nasional," katanya.

Ikuti kami di
Editor: Rachmat Hidayat
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas