Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun

Pihak Asing Ingin Pecah Belah Indonesia dengan Isu Kegaduhan TNI, BIN, dan Polri? Ini Alasannya

Ruang publik dihebohkan oleh kegaduhan dan kekacauan informasi mengenai adanya dugaan 5.000 senjata ilegal yang masuk ke Indonesia.

Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Pihak Asing Ingin Pecah Belah Indonesia dengan Isu Kegaduhan TNI, BIN, dan Polri? Ini Alasannya
.(KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (kanan) saat geladi bersih HUT Ke-70 Tentara Nasional Indonesia di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten, Sabtu (3/10/2015) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ruang publik dihebohkan oleh kegaduhan dan kekacauan informasi mengenai adanya dugaan 5.000 senjata ilegal yang masuk ke Indonesia.

Apalagi yang mengujarkan informasi tersebut adalah Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Gatot Nurmantyo.

Informasi tersebut mulai menjadi pembahasan panas di ruang publik setelah akun Twitter radio Elshinta berkicau mengenai pernyataan dari Panglima TNI.

Dalam kicauan tertanggal 22 September 2019, Sabtu pukul 12.42 WIB, Twitter radio Elshinta mengungkapkan, Panglima TNI menyebut ada institusi tertentu yang mencatut nama Presiden untuk mendatangkan 5.000 senjata secara ilegal.

Namun, tidak ada informasi rinci mengenai institusi yang dimaksud dan jenis senjata yang akan didatangkan.

Baca: Jokowi Diimbau Hati-hati Sikapi Manuver Panglima TNI

"Panglima TNI menyebutkan ada institusi tertentu yang mencatut nama Presiden untuk mendatangkan 5 ribu senjata secara ilegal. (ros)," kicau radio Elshinta.

Berita Rekomendasi

Unggahan tersebut sontak menggegerkan dunia maya, membuat publik menerka-nerka dan berspekulasi liar.

Kondisi yang terjadi di ruang publiki ini membuat pengamat intelijen dari Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib angkat bicara.

Menurut Ridlwan, ada pihak ketiga yang mencoba melakukan adu domba antara Panglima TNI, Polri (Kepolisian Republik Indonesia), dan (Badan Intelejen Negara) BIN.

Berikut ini paparan analisis dari Ridlwan :

1. Adu domba menggunakan media sosial

Ridlwan mengungkapkan jika metode adu domba ini dilakukan melalui media sosial.

"Dari penelusuran dengan metode open source intelligence atau OSINT, operasi adu domba ini menggunakan medsos, " ujar Ridlwan kepada Tribunnews.com, Senin (25/9/2017).

Ridlwan menjelaskan, pada tanggal 23 September pukul sekitar 22.00 WIB muncul tagar di media sosial #PanglimaTantangBIN.

Bahkan tagar tersebut sempat menjadi trending topik di Twitter.

2. Serangan melalui auto bot

Menurut alumni S2 Kajian Intelijen UI, serangan di media sosial itu dilakukan menggunakan auto bot.

Artinya, trending topik tersebut tidak benar-benar dikicaukan oleh akun asli.

"Dari penelusuran saya, itu menggunakan auto bot, mesin, bukan akun akun asli, " kata Ridlwan.

Menurut hasil pelacakannya, website perangbintang.com beralamat IP di 198.185.159.145 yang berada di Naples, Florida, Amerika Serikat.

"Ada intensi dari pembuat situs itu untuk menyamarkan penjejakan, " kata Ridlwan.

3. Beredar di WhatsApp grup

Tak hanya berhenti sampai di Twitter, serangan di media sosial itu terus bergulir hingga ke aplikasi percakapan, WhatsApp.

Tertanggal 24 September 2017, isu tersebut semakin memanas setelah beredar berita melalui WhatsApp group yang mengutip situs perangbintang.com.

"Padahal di berita itu ada wawancara fiktif seolah olah Kepala BIN diwawancarai padahal tidak pernah dan tidak jelas lokasi wawancaranya. Tujuannya jelas fitnah dan menyesatkan.

Mengutip dari Tribunnews.com, dalam berita itu ada wawancara Kepala BIN, padahal wawancara tersebut fiktif dan tidak pernah terjadi,

Tidak jelas pula lokasi adanya wawancara tersebut.

Tujuannya jelas untuk fitnah dan menyesatkan.

4. Akun anonim

Selain BIN, adapula akun-akun anonim yang memanaskan situasi.

Akun anonim tersebut seolah menuduh Polri mempunyai senjata ilegal.

Bahkan menyebarkan gambar-gambar hoax, seperti gambar tumpukan senjata AK 47 yang disebut milik Polri.

"Setelah ditelusuri di internet itu gambar tumpukan senjata di konflik Yaman tahun 2016. Jadi memang tujuannya adu domba dengan modal gambar hoax," katanya.

5. Kepentingan asing

Isu yang diembuskan ini merupakan upaya untuk membuat suasana Indonesia menjadi gaduh dan menaruh curiga kepada kepolisian, BIN dan TNI.

Padahal hubungan ketiga instansi tersebut baik-baik saja.

Menurut Ridlwan, aktor dari upaya pecah belah ini adalah pihak asing.

Namun, ia tidak menjelaskan lebih rinci mengenai pihak asing tersebut.

"Operasi intelijen asing yang sangat berbahaya karena mengadu domba para Bhayangkari negara, padahal hubungan Panglima, Kepala BIN, Kapolri harmonis dan baik baik saja, " tegasnya.

Selain agar hilang kepercayaannya pada pemerintah, Ridlwan meyakini, tujuan pihak asing tersebut adalah untuk mengganggu pembangunan di Indonesia.

"Masyarakat dibuat tidak tenang oleh isu isu sehingga resah dan tidak percaya pada pemerintah, ini sangat berbahaya, " katanya.

6. Tanggapan atas respons Menkopolhukam

Sebelumnya, Menkopolhukam Wiranto sudah menegaskan bahwa hal itu hanya terkait komunikasi yang belum tuntas.

Tanggapan tersebut menurut Ridlwan, merupakan tindakan yang tepat.

"Kalau setelah ini terus memanas, pasti ada kepentingan asing yang tidak ingin Indonesia akur, rukun dan damai, " kata Ridlwan.

7. Bijak menyebar kabar di media sosial

Ridlwan juga mengimbau kepada masyarakat supaya lebih bijak dalam menyebar informasi di media sosial.

Informasi yang bersifat memecah belah akan membuat Indonesia lebih mudah dihancurkan.

"Bangsa ini kuat kalau bersatu, kita akan hancur jika dipecah belah dan diadu domba. Indonesia musti bersatu, " katanya.

Tiap institusi intelijen juga punya tugas dan kewenangan masing-masing.

"Intelijen TNI adalah intelijen tempur untuk kepentingan military intelligence. Tugasnya adalah memastikan pertahanan nasional kuat dari kemungkinan serangan pihak asing, berapa kekuatan senjata Singapura, berapa kapal selam Australia, itu salah satu contoh tugas intelijen tempur, " katanya.

Ridlwan mengingatkan, dalam tugas intelijen berlaku single user atau pengguna tunggal.

"Intelijen negara usernya adalah Presiden. Baik itu yang berdinas di intelijen militer /Bais maupun intelijen Polri dan intelijen BIN sama sama bertanggung jawab pada satu pengguna yakni Presiden," katanya.(TribunWow.com/Fachri Sakti Nugroho)

Sumber: TribunWow.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
asd
Video Player is loading.
Current Time 0:00
Duration 0:00
Loaded: 0%
Stream Type LIVE
Remaining Time 0:00
Â
1x
    • Chapters
    • descriptions off, selected
    • subtitles off, selected
      © 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
      Atas