PPP: Parpol Relijius Akan Saling Memakan Pangsa Pemilihnya
Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa swing voters yang pandangannya berubah dan berganti, ternyata bermigrasi dari relijius ke nasionalis.
Editor:
Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, BALIKPAPAN - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy menilai migrasi ideologis di Indonesia terjadi dari partai nasionalis dengan tambahan partai relijius.
Hal itu berarti ada penyeberangan pemilih dari pemilih relijius ke pemilih nasionalis.
"Tetapi belum pernah ada dalam sejarah republik ini, penyeberangan pemilih dari pemilih nasionalis ke pemilih relijius," kata Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan M. Romahurmuziy dalam silaturahmi dengan DPW PPP Kalimantan Timur di Balikpapan, Kamis (19/10/2017).
Baca: Mendagri Yakin Pilkada Serentak 2018 Berlangsung Aman
Hal itu terlihat dalam Pemilu 2014, dimana sejumlah partai politik nasionalis, menang di daerah yang dulunya adalah basis parpol relijius. Contohnya adalah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Jawa Timur.
"Dahulu daerah tersebut dari pemilu ke pemilu, selalu dimenangkan oleh partai relijius. Namun belakangan ini dimenangkan oleh parpol nasionalis," kata Romi dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa swing voters yang pandangannya berubah dan berganti, ternyata bermigrasi dari relijius ke nasionalis.
Bahkan, refleksi angkanya tertangkap di tingkat nasional.
"Pada Pemilu 1955 yang dianggap paling ideologis dalam sejarah Indonesia, jumlah pemilih relijius adalah 43%, yang terdiri atas Masyumi dan NU. Namun saat ini, pemilih relijius hanya berjumlah 31%," paparnya.
Itupun terdiri dari Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Bulan Bintang.
Baca: Pengamat Ungkap Faktor yang Pengaruhi Proses Elektoral Pemilu 2019
Saat ini, perolehan suara partai nasionalis hampir mencapai 70%.
"Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada cara komunikasi yang kurang beradaptasi dengan perubahan jaman dan perilaku pemilih. Mengapa pemilih nasionalis tidak menyebrang ke relijius," ucapnya balik bertanya.
Sebaliknya, partai relijius gagal menahan pemilihnya dan akhirnya bermigrasi ke partai nasionalis.
Dengan komposisi tersebut, perebutan para pemilih dalam Pemilu 2019, diprediksi masih berlangsung diantara pemilih relijius.
"Parpol berbasis relijius akan saling memakan pangsa pemilihnya. Ini menjadi persoalan besar bagi PPP yang harus berebut kue yang sedikit," tandasnya.