Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kapolri Soal Gaji Tinggi Densus Tipikor: Menyapu Lantai Kotor Sapunya Harus Bersih

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan masalah anggaran Detasemen Khusus Tindak Pidana Korupsi (Densus Tipikor).

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Wahyu Aji
zoom-in Kapolri Soal Gaji Tinggi Densus Tipikor: Menyapu Lantai Kotor Sapunya Harus Bersih
Tribunnews.com / Wahyu Aji
Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAKapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan masalah anggaran Detasemen Khusus Tindak Pidana Korupsi (Densus Tipikor).

Menurutnya, anggaran yang diajukan besar, salah satunya digunakan untuk belanja pegawai, barang dan modal.

Tito mencontohkan bahwa jika belanja pegawai itu mencapai 3.000 personel, setidaknya dibutuhkan Rp 700 miliar.

Baca: Menteri Agama Segera Rumuskan Kode Etik Penceramah

Jika disetujui, Tito akan menyalurkan anggaran tersebut untuk tunjangan kinerja anggota.

"Tukin (ditambah) untuk menyapu lantai yang kotor sapunya harus bersih, kira-kira begitu. Ini kembali kepada kesejahteraan anggota, sehingga kami konsep kami dari Polri agar anggota ini diberikan tukin yang sama dengan KPK, kira2 begitu sehingga ketemu angka Rp700 miliar," kata Tito kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (24/10/2017).

Lebih lanjut Tito menyebutkan, anggaran yang disusun untuk belanja barang sekitar Rp 300 miliar.

Rekomendasi Untuk Anda

Uang itu digunakan untuk kepentingan penyelidikan, penyidikan.

Tujuannya adalah agar tak ada penyimpangan ketika kekurangan anggaran.

"Lengkapi mereka dengan anggaran yang cukup," katanya.

Baca: Tito Tegaskan Densus Tipikor Bukan Lembaga Baru di Luar Polri

Selanjutnya Rp1,5 triliun untuk keperluan belanja modal, seperti pembentukan satuan tugas (satgas) di wilayah Indonesia beserta gedungnya.

Namun, anggaran yang turun akan digunakan bertahap hingga tahun 2020.

"Jadi sebetulnya anggaran itu sendiri kalo memang mau dibentuk urgent itu yang paling penting adalah gaji, gaji kan tak bisa ditunda. Sama biaya operasionalnya harus cukup yang kira-kira kalo kami lihat Rp1 triliun. Untuk gajinya 700an miliar, kemudian kegiatan operasionalnya lebih kurang Rp 300 miliar. Itu yang diperlukan urgent," kata Tito.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas