Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Wacana Prabowo Berpasangan dengan Aher Menurut Pengamat yang Paling Masuk Akal

Aher merupakan kader idiologis PKS yang secara definitif akan memperkuat koalisi antara Gerindra dan PKS

Wacana Prabowo Berpasangan dengan Aher Menurut Pengamat yang Paling Masuk Akal
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan didampingi istri, Netty Prasetiyani Heryawan foto bersama sejumlah warga seusai acara silaturahmi dan buka puasa bersama warga sekitar Gedung Pakuan, di lapangan tenis Gedung Pakuan, Jalan Cicendo, Kota Bandung, Selasa (12/6/2018). Acara silaturahmi tersebut sekaligus menjadi acara pamitan Ahmad Heryawan bersama istri yang akan memasuki purnatugas pada 13 Juni 2018. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM. JAKARTA - Membahas mengenai siapa cawapres yang layak mendampingi Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019 mendatang, Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menilai wacana Prabowo dipasangkan dengan Mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) adalah yang paling masuk akal.

Menurut Emrus, sosok Aher akan mendongkrak elektabilitas Prabowo di Jawa Barat khususnya, seturut peningkatan suara calon kepala daerah yang diusung Gerindra-PKS di Pilkada Jabar beberapa waktu lalu.

Baca: Peluang Mahfud MD dan Cak Imin Jadi Cawapres

Meski tidak menang, namun pasangan pasangan Sudrajat-Syaikhu memberi kejutan dan nyaris menumbangkan pasangan Ridwan Kamil-UU Ruhzanul Ulum.

"Aher kader PKS dan terbukti dua periode berhasil membangun Jawa Barat, dibanding dengan Anies Baswedan," kata Emrus saat dihubungi di Jakarta, Senin (16/7/2018).

Hal positif lainnya, menurut Emrus, Aher merupakan kader idiologis PKS yang secara definitif akan memperkuat koalisi antara Gerindra dan PKS. Sebab bagaimanapun politik itu bicara kekuasaan dab bicara kepentingan.

"Bukankah kepentingan PKS lebih terwujud jika mengusung kadernya sendiri yaitu Aher dibanding Anies," ujar dia.

Sementara, wacana Anies untuk mendampingi Prabowo, kata Emrus, belum teruji di Jakarta karena pembangunan yang di Jakarta saat ini masih sebagai karya dari Jokowi yang kemudian dilanjutkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Walhasil, menurut dia, lebih kongkret ketika PKS memasankan Prabowo dengan Aher.

"Itu lebih produktif ketika nanti berhadapan dengan calon pesaingnya di Pilpres yakni Jokowi dan pasangannya," sambungnya.

Baca: Angka Kemiskinan Indonesia Tahun 2018 Terendah sejak 1999, Budiman Sudjatmiko: Jokowi Tidak Sempurna

Jika PKS memaksakan diri mengusung Anies, Emrus mengatakan, akan berdampak buruk kepada PKS di kemudian hari.

"Jadi jangan sepelekan kader sendiri, kecuali memang tidak ada kader lagi. Dan jika Aher dicalonkan, sekaligus menunjukkan kepada publik bahwa kaderisasi di PKS berjalan dengan baik. Ini bisa jadi insentif elektabilitas untuk PKS di Pemilu Legislatif nanti," tutupnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas