Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Pilpres 2019

IKANU Ajak Kampanyekan Tagar 2019 Tetap Bersaudara

Menurutnya IKANU perlu mengambil sikap dan langkah-langkah strategis untuk memperkuat politik kebangsaan.

IKANU Ajak Kampanyekan Tagar 2019 Tetap Bersaudara
silaturahmi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Demokratisasi di era reformasi telah membuka kanal-kanal baru bagi munculnya otoritas agama dan politik baru.

Aktor-aktor baru muncul dan ikut berkontestasi dalam mengartikulasikan Islam dan perannya dalam tatanan politik dan kenegaraan.

Sekjen Ikatan Alumni Nahdlatul Ulama Al-Azhar Mesir (IKANU), HM. Anis Mashduqi mengatakan, otoritas baru ini sangat aktif dalam mengkonsolidasikan kekuatan dan siap mengisi ruang-ruang yang ditinggalkan atau belum digarap oleh kelompok arus utama Islam Indonesia.

Menurutnya IKANU perlu mengambil sikap dan langkah-langkah strategis untuk memperkuat politik kebangsaan.

Beberapa hal yang dapat dirumuskan menjadi strategi pergerakan IKANU adalah, mengajak kepada seluruh elemen bangsa, tanpa memandang ras, suku, partai, ormas untuk menghadang hate spin, rekayasa kebencian berbasis agama untuk kepentingan politik yang mengancam persaudaraan sesama anak bangsa.

"Mendorong seluruh elemen bangsa untuk mendukung upaya penguatan NKRI sebagai kedaulatan politik yang disepakati dan menanggulangi ancaman-ancaman yang berpotensi melemahkannya," kata Anis dalam keterangan yang diterima, Sabtu (1/9/2018).

IKANU juga mendesak elit politik untuk tidak memanfaatkan kelompok dan gerakan apapun yang mengancam NKRI untuk kepentingan politik sesaat.

"Ukhuwwah wathaniyyah atau persaudaraan sesama anak bangsa dan kemaslahatan Indonesia harus menjadi kerangka kerja yang disepakati oleh seluruh warga negara dalam kompetisi politik apapun," katanya.

Menurutnya, bangsa Indonesia harus menjadi contoh bagi negara-negara dunia dan Muslim khususnya dalam berdemokrasi.

"Demokrasi harus dipahami sebagai prinsip yang menghormati kebebasan individu dan kelompok dalam hal apapun selama melanggar, mencederai dan mengancam hak dan kebebasan individu dan kelompok lain," katanya.

Anis menjelaskan, dalam Pemilu 2014 telah membelah bangsa Indonesia, menjadi dua kelompok besar politik dan keagamaan.

"Yang efeknya dapat dirasakan hingga sekarang. Merebaknya intoleransi dan hate spin serta menguatnya otoritarianisme mayoritas dan konservatisme agama. Oleh karena itu, IKANU mendesak proses politik dengan puncaknya pada 2019 harus berakhir dengan konsensus nasional, yaitu persaudaraaan sebangsa dan setanah air," katanya.

Dirinya juga mengajak untuk menguatkan tagar bersama 2019tetap bersaudara dan menghimbau untuk menjauhi tagar yang dapat memecah belah eleman anak bangsa.

Penulis: Wahyu Aji
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas