Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Bantu Pelarian Eddy Sindoro Tanpa Imigrasi, Petugas Bandara Dapat Imbalan Rp 250 Juta

Petugas bandara ini bernama Dwi Hendro Wibowo alias Bowo yang mengamini membantu penjemputan Eddy Sindoro

Bantu Pelarian Eddy Sindoro Tanpa Imigrasi, Petugas Bandara Dapat Imbalan Rp 250 Juta
Theresia Felisiani/Tribunnews.com
Lucas 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam surat dakwaan pengacara Lucas di kasus dugaan merintangi penyidikan pada tersangka Eddy Sindoro, mantan petinggi Lippo Group, disebutkan ada peran petugas bandara.

Petugas bandara ini bernama Dwi Hendro Wibowo alias Bowo yang mengamini membantu penjemputan Eddy Sindoro, Chuas Chwee Chye alias Jimmy alias Lie dan Michael Sindoro untuk langsung melanjutkan penerbangan keluar negeri tanpa melalui proses pemeriksaan imigrasi.

Disebutkan pula dalam membantu pelarian Eddy Sindoro, Lucas bersama-sama dengan Dina Soraya. Dina pula yang menggelar pertemuan dengan Dwi Hendro Wibowo membahas teknis penjemputan Eddy Sindoro, dkk dari Malaysia menggunakan pesawat AirAsia dan melakukan penerbangan ke Bangkok dengan pesawat Garuda Indonesia.

"Selanjutnya Dina Soraya melaporkan ke terdakwa bahwa petugas bandara sanggup membantu merealisasikan permintaan terdakwa. Atas laporan tersebut, terdakwa memerintahkan Dina Soraya mengambil uang ke Stephen Sinarto selaku staf terdakwa sebagai biaya operasional termasuk imbalan kepada pihak-pihak yang akan membantunya," papar jaksa KPK, Abdu Basir saat membacakan surat dakwaan Lucas, Rabu (7/11/2018) di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Lanjut terdakwa Lucas menyerahkan uang 46.000 SGD dan Rp 50 juta kepada Stephen Sinarto yang kemudian tanggal 24 Agustus 2018, uang tersebut diambil Dina Soraya ‎melalui Nur Rohman di kantor terdakwa, Sahid sudirman Center lantai 55, Jakarta Pusat.

Lanjut pada ‎25 Agustus 2018 Dina Soraya memberikan uang 33.000 SGD kepada Dwi Hendro Wibowo sebagai biaya operasional dan imbalan untuk penjemputan Eddy Sindoro dkk sebagaimana rencana yang disepakati.

Baca: Diam-diam Anies Lakukan Komunikasi Dengan PKS dan Gerindra Soal Wagub DKI Jakarta

Pada 28 Agustus 2018, kantor Imigrasi Malaysia mengeluarkan surat perintah pengusiran terhadap Eddy Sindoro. Atas pengusiran itu, Eddy Sindoro akan pulang ke Indonesia menggunakan pesawat AirAsia nomor penerbangan AK 380 pukul 06.55 waktu Malaysia tanggal ‎29 Agustus 2018 dengan ditemani Jimmy dan Michael Sindoro.

Mengetahui jadwal kepulangan Eddy Sindoro, terdakwa memerintahkan Dina Soraya membeli tiket untuk Eddy Sindoro, Jimmy dan Michael Sindoro dengan rute penerbangan Jakarta-Bangkok pada 29 Agustus 2018 pukul 09.40 WIB.

Menindaklanjuti perintah terdakwa, Dina Soraya meminta Dwi Hendro Wibowo membeli tiket dimaksud dan menginformasikan jadwal kedatangan Eddy Sindoro, Jimmy dan Michael Sindoro dari Malaysia.

‎"Dwi Hendro Wibowo membeli tiga tiket Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 0866. Bersamaan dengan mendaratnya pesawat AirAsia dari malaysia di Bandara Soekarno Hatta, Dwi Hendro Wibowo memerintahkan Ridwan, selaku Staff Customer Service Gapura mencetak boarding pass atas nama Eddy Sindoro, Jimmy dan Michael Sindoro tanpa kehadiran yang bersangkutan untuk diperiksa identitasnya," papar jaksa Abdul Basir.

Masih menurut jaksa, Dwi Hendro Wibowo‎ juga memerintahkan Andi Sofyar selaku petugas Imigrasi Bandara Soekarno Hatta untuk stand by di area Imigrasi Terminal 3 dan melakukan pengecekan status pencekalan Eddy Sindoro.

Selanjutnya Dwi Hendro Wibowo menjemput Eddy Sindoro, Jimmy dan Michael Sindoro di depan pesawat menggunakan mobil AirAsia langsung menuju Gate U8 terminal 3 tanpa melalui pemeriksaan Imigrasi, dimana M Ridwan telah mempersiapkan boarding pass mereka.

Sekitar pukul 09.23 WIB, Eddy Sindoro dan Jimmy dapat langsung terbang ke Bangkok tanpa diketahui pihak Imigrasi sebagaimana yang diinginkan terdakwa sedangkan Michael Sindoro, anak dari Eddy Sindoro membatalkan penerbangannya.

Atas perbuatannya, Lucas disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana ‎Korupsi (Tipikor) sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas