Pidato Grace Natalie untuk Seluruh Parpol Nasionalis
Ia berharap PSI tak berhenti pada kritik tetapi ia juga akan tampil menjadi salah satu kekuatan pelopor bagi reformasi sistem parpol di negeri ini.
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Rachmat Hidayat
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pidato Ketum DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie (GN), di Medan, Senin (11/3/19) lalu, seharusnya dipahami sebagai sebuah peringatan dan kritik yang sangat mendasar terhadap partai-partai politik secara keseluruhan, bukan saja terhadap parpol nasionalis.
Bahkan pidato tersebut juga berlaku bagi PSI sendiri, sebagai salah satu parpol baru yang akan bertarung dalam Pemilu 2019. Baca: Elektabilitas 5,9 Persen di Survei Polmark, PAN Diprediksi Lolos PT
"Hemat saya, kritik paling mendasar dan menohok dari GN adalah tentang keberadaan parpol (nasionalis) saat ini yang telah 'mengingkari' alasan bagi keberadaan (raison d'etre) mereka dalam kancah perpolitikan nasional pasca-reformasi," ujar analis politik senior, Muhammad AS Hikam, Kamis (14/3/2019).
Menurutnya, Grace bukan hanya menuding, tetapi sambil menunjukkan beberapa fakta yang menyokong kritiknya. Ia menganggap wajar kemarahan elite parpol yang merasa partainya “diserang” oleh Grace. Tetapi, kalau mereka mau agak jujur, apa yang dinyatakan Grace secara substantif dapat dipertanggungjawabkan.
Terlepas dari apakah PSI sudah atau nantinya akan mampu bekerja lebih baik ketimbang parpol-parpol mapan.
Namun faktanya baru parpol ini (melalui Ketumnya) yang punya nyali untuk melakukan kritik mendasar terhadap kondisi parpol di negeri ini.
Baca: Wiranto Pastikan Tidak Ada Kerusuhan Jelang Pemilu 2019
PSI mengakui betapa jauhnya jurang antara apa yang semestinya (das sollen) dikerjakan oleh parpol dengan apa yang mereka lakukan dalam kenyataan (das sein) politik.
Parpol, dalam sebuah sistem demokrasi adalah ibarat mesin utama dan sekaligus pembawa arah perjalanan sistem. Jika ia rusak maka demokrasi akan hancur, pelan atau cepat.
"Pidato Grace Natalie relevan dengan apa yang menjadi pemikiran saya selama beberapa tahun belakangan yakni pentingnya sebuah gerakan reformasi total terhadap sistem partai politik," tuturnya.
"Reformasi tersebut adalah kiprah yang sama dengan yang sudah dilakukan oleh TNI dan Polri serta belakangan oleh birokrasi dalam rangka menopang kehidupan berdemokrasi pasca-Orba," kata dia.
"Jika parpol hanya seperti sekarang maka jangan harap akan terbangun sebuah sistem demokrasi konstitusional yang efektif, sehat, dan berkesinambungan," imbuhnya.
Ia berharap PSI tak berhenti pada kritik tetapi ia juga akan tampil menjadi salah satu kekuatan pelopor bagi reformasi sistem parpol di negeri ini.
Baca: Grace Natalie : Seharusnya ada Debat Antar-Parpol
Menurutnya, Ketum DPP PSI sudah dengan jitu membongkar kesalahan paling dasar dari parpol di negeri ini, yakni mereka semua telah dan sedang mengingkari raison d'etre nya sendiri.
Langkah selanjutnya, kata AS Hikam, adalah PSI mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama medorong dilakukannya reformasi sistemik thd parpol dalam waktu tak terlalu lama.
"Jika PSI mempunyai hasrat, semangat melakukan perubahan, saya yakin rakyat Indonesia, yang mencintai negerinya dan demokrasi, juga akan bersamanya. Dimulai dengan berkompetisi dalam ajang Pemilu 2019. Semoga sukses dalam melakukan pembaharuan di masa depan," pungkasnya.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.