Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Tendensi Perang Dagang Bukan Alasan Ekonomi Nasional Tertahan di Lima Persen

Peneliti INDEF menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tertahan di level lima persen bukan lantaran perang dagang dunia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Reynas Abdila
Editor: Willem Jonata
zoom-in Tendensi Perang Dagang Bukan Alasan Ekonomi Nasional Tertahan di Lima Persen
Tribunnews.com/Reynas Abdila
Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri . 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM -  Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tertahan di level lima persen bukan lantaran perang dagang dunia.

Menurutnya faktor eksternal tidak banyak mempengaruhi kualitas perekonomian nasional melainkan sumber utamanya dari dalam negeri.

“Jadi ini sudah lampu kuning. Pemerintah selalu mengkambinghitamkan sektor global padahal hanya 20 persen dari sana,” tutur Enny di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Enny mengimbau pemerintah untuk dapat memanfaatkan momentum perang dagang di mana banyak investasi bertebaran di negara-negara berkembang.

Baca: Indef: Masalah Harga Tiket Pesawat Buat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal 1-2019 Tak Maksimal

“Indonesia dengan basis pertumbuhannya di sumber daya. Artinya ketika hanya di 5 persen, jangan lagi-lagi mengkambinghitamkan eksternal, soroti dalam negeri,” tambahnya.

Perekonomian negara pada kuartal I 2019 tumbuh sebesar 5,07 persen atau meningkat dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 5,06 persen.

Rekomendasi Untuk Anda

Sebelumnya, Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani menegaskan pemerintah tengah berupaya meningkatan pertumbuhan ekonomi.

Baca: INDEF Nilai Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan Pertama Rendah

Menkeu menjelaskan Indonesia telah berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan yang membahas kebijakan fiskal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kebijakan moneter, maupun kebijakan perdagangan internasional.

Hal ini dilakukan untuk memformulasikan kebijakan agar momentum pertumbuhan ekonomi dapat terus diperbaiki dan dipertahankan.

“Saat ini kita akan terus menjaga pertumbuhan ekonomi kita di atas 5 persen dengan defisit APBN yang terus dijaga turun,” ujarnya saat pertemuan bank dunia.

Dikatakannya, pemerintah juga terus berupaya menjaga stabilitas harga dan mendorong investasi, serta meningkatkan kegiatan ekspor.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas