Akses Jadi Kendala Utama BNPB Tembus Lokasi Terdampak Gempa di Halmahera
tim reaksi cepat BNPB terkendala akses menuju lokasi paling terdampak gempa bumi tersebut yang diperkirakan berada di Desa Saketa
Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Adi Suhendi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rizal Bomantama
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelaksana Harian Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan BNPB telah mengirimkan tiga personil tim reaksi cepat ke lokasi gempa bumi 7,2 SR (Skala Ritcher) di Kabupaten Halmahera Selatan.
Namun, menurutnya tim reaksi cepat BNPB terkendala akses menuju lokasi paling terdampak gempa bumi tersebut yang diperkirakan berada di Desa Saketa, Kabupaten Halmahera Selatan.
“Hingga saat ini akses menuju Saketa hanya bisa dicapai melalui jalur laut. Dari ibukota Maluku Utara yaitu Ternate butuh 10 jam menggunakan kapal ferry menuju Labuha, ibukota Halmahera Selatan dan dari Labuha masih butuh lima jam menuju Saketa. Dari Ternate juga hanya ada satu penerbangan dalam sehari menuju ke Labuha,” ungkap Agus Wibowo di Kantor BNPB, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (15/7/2019).
Baca: Tanggapan Santai Hotman Paris Saat Tahu Akan Dilaporkan Pablo Benua atas Dugaan Pencemaran & Fitnah
Baca: Update Kasus MOS SMA Taruna Indonesia Palembang: Delwyn Meninggal, Wiko Jalani Operasi Perut
Baca: Amien Rais: Yang Ngomong Dunia Seolah Kursi Sesuatu yang Hebat, Itu Belum Paham Arti Kehidupan
Menurut Agus, tim reaksi cepat BNPB akan mencoba membuka akses menuju Saketa menggunakan jalan darat mulai dari Ternate menuju pelabuhan Sofifi dan dilanjutkan menuju jalan darat.
“Sementara jalur darat menuju Saketa belum dibuka,” imbuhnya.
Agus mengatakan tim reaksi cepat tersebut nantinya akan melakukan koordinasi penanganan bencana tersebut bersama instansi setempat dan melakukan pemetaan terhadap dampak bencana.
Bahkan BNPB juga telah mengirimkan tim dengan kelengkapan drone untuk melakukan pemetaan secara detail dan menyeluruh terhadap dampak gempa bumi tersebut.
Hingga saat ini gempa yang terjadi pada Minggu (14/7/2019) sekitar pukul 16.10 WIT dengan kedalaman 10 kilometer di darat tersebut menimbulkan 2 korban meninggal dunia dan 2.000 masyarakat mengungsi.
“Pendataan sementara juga mencatat ada 58 rumah rusak akibat gempa bumi di kawasan Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan. Dan dua jembatan terputus di kawasan Desa Saketa,” jelas Agus Wibowo.
Agus mengatakan pemerintah daerah telah membuka 14 titik pengungsian untuk mengakomodasi dua ribu pengungsi tersebut.
Ia juga melaporkan sebagian pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing setelah tidak adanya peringatan tsunami.
65 kali gempa susulan
Hingga Senin (15/7/2019) pagi pukul 07.00 WIB atau 09.00 WIT, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat ada sekitar 65 gempa susulan usai gempa bumi 7,2 SR (Skala Ritcher) yang mengguncang Pulau Halmahera di Provinsi Kepulauan Maluku Utara kemarin Minggu (14/7/2019) sekitar pukul 16.10 WIT.