Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Elite PDIP Bela Arteria yang Dinilai Tak Sopan saat Debat dengan Emil Salim

Saat itu topik Mata Najwa terkait Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang terkait Komisi Pemberantasan Korupsi (Perppu KPK).

Elite PDIP Bela Arteria yang Dinilai Tak Sopan saat Debat dengan Emil Salim
CAPTURE MATA NAJWA TRANS7
VIRAL Video Detik-detik Arteria Dahlan Bentak Emil Salim di Mata Najwa: Saya di DPR, Prof Sesat! 
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira menegaskan rekannya, Arteria Dahlan bukan tidak sopan dengan ekonom Emil Salim saat berdebat dalam acara Mata Najwa yang ditayangkan Trans7, Rabu (10/10/2019).

Saat itu topik Mata Najwa terkait Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang terkait Komisi Pemberantasan Korupsi (Perppu KPK).

Menurut Andreas Pareira, itulah gaya bicara dan debat Arteia Dahlan.

"Arteria Dahlan ya seperti itu orangnya, gaya bicaranya, gaya debatnya," ujar Andreas Pareira kepada Tribunnews.com, Kamis (10/10/2019).

Baca: KPK Tepis Pernyataan Arteria Dahlan yang Sebut KPK Gadungan untuk Melawan Hukum

Baca: Kisah Traveler Antimainstream yang Bertekad Kunjungi 100 Negara

Baca: Wiranto Ditusuk di Pandeglang, Polisi Bantah Lengah Terkait Pengamanan



Ketika Emil Salim masuk di dalam ruang debat publik yang egaliter, kata dia, sulit dan tak terhindarkan debat panas.

Apalagi berhadapan dengan seorang arteria, yang reaktif, frontal tetapi tetapi argumentatif.

"Saya kira, sikap Arteri ini bukan tidak sopan pada pak Emil Salim. Tapi lebih soal gaya dari seorang Arterian dalam berdebat memang begitu," jelas Andreas Pareira.

Dalam hubungan sosial, Andreas Pareira mengenak sosok Arteria hampir 10 tahun.

Bagi Andreas Pareira, Arteria adalah orang yang komunikatif, sopan, mau berdialog, mendengar dan loyal.

"Presenter, TV-Host pun perlu introspeksi kalau mengundang nara sumber. Kalau tidak ingin terjadi debat panas yang berimplikasi bisa seperti anggapan terhadap Arteria, ya jangan mengundang dan menyandingkan orang seperti Arteria dan Emil Salim, yang dari segi usia jauh berbeda, profesi beda, disiplin ilmu beda apalagi karakter," tegasnya.

Penjelasan Arteria Dahlan 

Politisi PDI Perjuangan Arteria Dahlan bersuara memberikan penjelasan mengani perdebatannya dengan ekonon Emil Salim terkait Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang terkait Komisi Pemberantasan Korupsi (Perppu KPK) dalam acara "Mata Najwa" yang ditayangkan Trans7, Rabu (10/10/2019).

Dalam tayangan video acara Mata Najwa yang ditayangkan di Trans7, Rabu (10/10/2019) malam, Arteria berkali-kali bersuara tinggi saat berdebat dengan Menteri Lingkungan Hidup pada era Presiden Soeharto.

Mantan anggota Komisi III DPR RI itu hanya ingin menyatakan kebenaran dan menjaga kehormatan institusi DPR yang diserang ekonom tersebut.

Bahkan Arteria Dahlan mengaku siap tidak populer pasca dialognya dengan ekonom Emil Salim menjadi viral.

"Tidak apa-apa, saya mewakafkan diri saya untuk menyatakan yang benar. Walau tidak populer sekalipun. Sekarang yang dibahas bukan Perppu lagi. Tapi sikap saya yang kurang sopan. Lah, kita ini belajar jujur, menyatakan yang benar saja tidak berani," ungkap Arteria saat dikonfirmasi tribunnews.com melalui whatsapp, Kamis (11/10/2019).

Berikut hasil wawancara Tribunnews.com dengan Arteria Dahlan:

Bagaimana penjelasannya terkait perdebatan pak Arteria dengan ekonom Emil Salim di Mata Najwah yang kini menjadi viral:


Tidak apa-apa, saya mewakafkan diri saya untuk menyatakan yang benar. Walau terkesan tidak populer sekalipun.

Sekarang yang dibahas bukan perppu lagi tapi sikap saya yg kurang sopan. Lah, kita ini belajar jujur dan menyatakan yang benar saja tidak berani.

Dalam acara Mata Najwa kemarin malam yang membahas Perppu KPK, Pak Arteria Dahlan terlibat debat panas dengan ekonom Emil Salim. Saking tingginya tensi perdebatan tersebut, bapak sampai menunjuk-nunjuk dan menyebut Emil Salim Sesat. Apa penjelasan bapak?

Saya tidak emosi. Saya hanya sayangkan seorang tokoh senior yang saya hormati, dimanfaatkan untuk mengutarakan hal-hal yang sebenarnya di luar kapasitas beliau.

Awalnya kan saya sangat sopan, tapi ini kan sudah didesign. Prof Emil yang nota bene tidak berlatar belakang hukum dan beliau tidak memahami benar materi muatan yang ada di Revisi UU KPK tiba-tiba berpendapat banyak kelirunya. 


Sudah dicoba untuk diklarifikasi tapi justru menyerang kehormatan, tidak hanya menghina bahkan menista kami tapi juga institusi DPR. Dan itu dilakukan secara tanpa dasar, berulang-ulang dan dipertontonkan dihadapan jutaan pemirsa TV, maupun suporter najwa.

Bagi saya ini masalah perjuangan ideologi, saya datang untuk melakukan dialektika kebangsaan bukan utk debat kusir dan penggiringan opini. Dari sejak awal saya melihat ini sudah tidak sehat.

Saya minta prof Emil tarik ucapannya. Baca dulu dengan baik materi muatan revisi UU KPK. Pahami fakta hukum dan sosial yang ada, bicara sesuai keahlian saja. Beliau kan ekonom tapi bicara seolah-olah ahli hukum. Jangan bicara revisi UU KPK karena DPR banyak yang ditangkap.

Saya juga menanyakan sadar ga beliau bahwa beliau dibesarkan oleh Orba yang penuh dengan perilaku koruptif. Apa yang beliau perbuat? Jangan tiba tersadarkan saat ini dan merasa diri lebih hebat, lebih bersih dari kami yang di DPR.
Apa yang beliau perbuat sewaktu jadi menteri dahulu? Kok ga berani bicara seperti ini waktu beliau menjabat dahulu, koreksi DPR-nya koreksi presidennya. Kan tidak dia lakukan.

Apakah bapak  marah saat itu?


Kalau anda, institusi DPR di tempat anda bekerja dan Partai Politik tempat kita dibesarkan tidak hanya dilecehkan, tapi dihina, dinista dan difitnah, tentu kita akan bereaksi. Tidak marah.

Ada message, sudah ga jamannya lagi perdebatan issue-issue konstitusional dilakukan dengan penggiringan opini publik dengan membawa tokoh-tokoh masyarakat. Pakai kanal konstitusi lah. (*)
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Malvyandie Haryadi
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas