Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Korupsi KTP Elektronik

Dijebloskan ke Penjara, Markus Nari Sebut Pengacara Anton Taufik Turut Andil

Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK menyebut di surat dakwaan, Markus Nari meminta Anton Taufik agar menemui mantan anggota DPR RI, Miryam

Dijebloskan ke Penjara, Markus Nari Sebut Pengacara Anton Taufik Turut Andil
Tribunnews/JEPRIMA
Mantan anggota DPR Markus Nari saat mengikuti sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (11/11/2019). Markus Nari divonis 6 tahun penjara karena terbukti melakukan pidana korupsi dengan memperkaya diri dari proyek e-KTP, Meski begitu dirinya membantah telah menerima uang USD 400 ribu. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menyatakan mantan anggota Komisi II DPR RI Markus Nari, bersalah melakukan upaya merintangi proses persidangan kasus korupsi proyek e-KTP.

Markus Nari membantah melakukan itu. Dia mengaku hanya menuruti permintaan mantan pengacaranya, Anton Taufik.

Baca: Hakim: Markus Nari Terima Uang 400 Ribu Dollar Amerika Serikat

Baca: Kasus E-KTP, Hak Politik Markus Nari Dicabut Selama Lima Tahun

Baca: Sidang Kasus E-KTP, Hakim Vonis Markus Nari Enam Tahun Penjara

"Memang terus terang apa yang disampaikan Anton Taufik. Anton Taufik itu lebih aktif. Dia itu markus, makelar kasus sebenarnya. Selalu membujuk kami bagaimana menggunakan jasanya," kata Markus Nari, ditemui setelah persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (11/11/2019).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK menyebut di surat dakwaan, Markus Nari meminta Anton Taufik agar menemui mantan anggota DPR RI, Miryam S Haryani, agar mengubah berita acara pemeriksaan (BAP).

Mantan anggota DPR Markus Nari saat mengikuti sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (11/11/2019). Markus Nari divonis 6 tahun penjara karena terbukti melakukan pidana korupsi dengan memperkaya diri dari proyek e-KTP, Meski begitu dirinya membantah telah menerima uang USD 400 ribu.
Tribunnews/Jeprima
Mantan anggota DPR Markus Nari saat mengikuti sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (11/11/2019). Markus Nari divonis 6 tahun penjara karena terbukti melakukan pidana korupsi dengan memperkaya diri dari proyek e-KTP, Meski begitu dirinya membantah telah menerima uang USD 400 ribu. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Upaya itu dilakukan, karena di BAP itu, Miryam menyebut nama Markus Nari menerima uang korupsi proyek e-KTP sebesar 400 Ribu Dolar Amerika Serikat (AS).

Akhirnya, Markus meminta Anton agar membantu mendampingi di perkara proyek e-KTP. Atas perbuatan itu, Anton menerima uang sebesar 10 ribu Dolar Singapura.

Namun, Markus membantah memberikan uang itu. Dia mengaku hanya memberikan uang kepada Anton untuk keperluan ibadah Umroh.

Terdakwa kasus korupsi KTP elektronik Markus Nari menjalani sidang lanjutan dengan agenda pembacaan tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (28/10/2019). Mantan anggota DPR itu dituntut Jaksa Penuntut Umum KPK sembilan tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan serta pencabutan hak politik selama lima tahun karena diyakini menerima uang dari hasil korupsi KTP elektronik dan merintangi penyidikan kasus tersebut. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Terdakwa kasus korupsi KTP elektronik Markus Nari menjalani sidang lanjutan dengan agenda pembacaan tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (28/10/2019). Mantan anggota DPR itu dituntut Jaksa Penuntut Umum KPK sembilan tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan serta pencabutan hak politik selama lima tahun karena diyakini menerima uang dari hasil korupsi KTP elektronik dan merintangi penyidikan kasus tersebut. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

"Saya tidak pernah memberikan uang untuk menyuruh dia. Saya pernah memberikan uang untuk Umroh, dan dia menyatakan benar dalam fakta persidangan. Dua kali dia Umroh. Saya tidak pernah menyatakan memberi dua kali 10 ribu (Dolar Singapura,-red)" kata dia.

Dia mengaku memberikan uang kepada Anton untuk membiayai Umroh, karena sudah mengenal dekat dengan yang bersangkutan.

"Dia itu tetangga saya dulu. Jadi, saya suka membantu dia. Jadi bukan sekali itum sudah sering saya membantu Anton Taufik," tambahnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Sanusi
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas