Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Obsatar Sinaga: Terorisme Dapat Masuk ke Anak Jika Guru di Sekolah Terpapar Radikalisme

Profesor Obsatar Sinaga menyebut saat ini penyebaran virus terorisme dan radikalisme sudah memasuki dunia pendidikan.

Obsatar Sinaga: Terorisme Dapat Masuk ke Anak Jika Guru di Sekolah Terpapar Radikalisme
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Ilustrasi: Anggota komunitas otomotif membubuhkan tulisan dan tandatangan mendukung anti hoax dan radikalisme di spanduk putih pada acara Deklarasi Anti Hoax dan Anti Radikalisme di depan Gedung Sate, Jalan Dipenogoro, Kota Bandung, Minggu (6/5/2018). (foto yang ditayangkan tidak ada kaitannya dengan berita yang ditayangkan) 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Mafani Fidesya Hutauruk

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Profesor Obsatar Sinaga menyebut saat ini penyebaran virus terorisme dan radikalisme sudah memasuki dunia pendidikan.

Menurut Rektor Universitas Widyatama periode 2019-2023 tersebut menjelaskan jika terorisme dapat masuk ke dunia anak-anak melalui guru yang terpapar radikalisme.

"Terorisme itu dapat masuk ke dunia anak-anak. Terorisme bisa masuk jika di dalam sekolah-sekolah itu ditampilkan guru-guru pengajar yang sudah terpapar radikalisme," kata Obsatar Sinaga saat menjadi pembicara dialog kebangsaan bertemakan Gerakan Semangat Bela Negara dalam Menghadapi Ancaman Terorisme, Radikalisme, dan Liberalisme di Jakarta, Senin (25/11/2019).

Baca: Forum Pengadu Layanan Komnas Perempuan Catat Ada 168 Kasus Hubungan Sedarah Sepanjang 2016-2018

Untuk itu, ia menyarankan agar orang tua tidak lengah mengawasi buah hatinya.

Menurutnya hal tersebut penting agar anak tidak ikut terpapar paham radikalisme.

Ia menilai banyak ibu-ibu yang dengan santainya memberikan gadget kepada anaknya agar dirinya dapat beraktivitas.

Baca: Jadi Stafsus Jokowi, Aminuddin Maruf Baru Tahu Gajinya Rp 51 Juta

Pria yang pernah menjadi kandidat rektor Universitas Padjadjaran itu menyayangkan jika pada saat anak menggunakan gadget justru digunakan untuk menonton konten yang merusak anak.

"Jika ibu-ibu asik ngerumpi saja dan anak-anaknya main gadget atau nonton video kita tidak tahu apa yang anak-anak sedang lakukan kan. Kita tidak tahu kan kalau ternyata anak-anak kita sudah menonton video cara membuat bom melalui video di YouTube," ucapnya.

Baca: Jadi Stafsus Jokowi, Aminuddin Maruf Baru Tahu Gajinya Rp 51 Juta

Sebab ia meyakini bahwa penyebaran virus terorisme dan radikalisme itu lebih cepat tersebar melalui jaringan internet.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Adi Suhendi
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas