Cendekiawan Muslim: Indonesia Butuh Nasionalis Seperti Ara Sirait
Namun memang Pancasila harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.
Editor:
Hasanudin Aco
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Cendekiawan muslim yang juga intelektual Persatuan Islam (Persis), Atip Latifulhayat, sangat mengapresiasi pandangan dan sikap Maruarar Sirait yang mencerminkan seorang tokoh nasionalis.
"Pandangan Maruarar bahwa orang Kristen harus bersikap adil dan menjadi Pancasialis sejati sangat menggembirakan di kalangan aktivis muslim," kata Atip, yang juga gurubesar hukum internasional di Universitas Padjajaran, Bandung, saat dimintai keterangannya, Minggu (2/2/2020).
Dketahui, Maruarar mengatakan bahwa orang-orang Kristiani harus membela Pancasila secara tulus dan serius serta menjaga kebhinnekan Indonesia secara total.
Maruarar mengajak agar orang-orang Kristen bersuara bila ada rumah ibadah agama lain diganggu.
Maruarar juga mengatakan bahwa polisi harus bertindak tegas terkait dengan kasus pengrusakan rumah ibadah agama apapun dan di kejadian di manapun.
Menurut Atip, yang meraih gelar doktor dari Monash University Australia ini, orang Indonesia membutuhkan tokoh-tokoh nasionalis seperti Maruarar Sirait yang tak menjadikan Pancasila hanya sebagai basa-basi belaka atau hanya sebagai retorika belaka.
Namun memang Pancasila harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.
"Jangan pula isu diskriminasi dan toleransi hanya disampaikan ketika kepentingan kelompoknya yang terganggu saja. Tapi ketika kepentingan kelompok lain terganggu, dan itu menyentuh aspek kemanusian dan kebangsaan, malah didiamkan dan seakan tak terjadi apa-apa. Bising ketika kelompok sendiri terganggu, namun bisu seketika ketika kepentingan orang lain yang terganggu," jelas Atip.
Presiden Asosiasi Hukum Internasional cabang Indonesia ini menambahkan bahwa volume suara-suara seperti Maruarar harus semakin kencang.
Sehingga bisik-bisik kecurigaan yang bisa mengoyak persatuan Indonesia bisa kian menipis atau bahkan tidak ada.
"Tentu saja, toleransi juga harus dijalankan dengan ketulusan, dan sekali lagi bukan basa-basi. Bila itu terjadi, maka kedamaian dalam pluralitas dan keragaman akan berjalan secara alami, tanpa harus dipaksakan," demikian Atip.
Baca tanpa iklan