Mahasiswa yang diobservasi Terkait Virus Corona Khawatir Status Pendidikan Mereka
Sayangnya karena terjadi wabah corona mereka hanya mendapatkan teori saja yang bisa diakses secara online
Penulis:
Apfia Tioconny Billy
Editor:
Imanuel Nicolas Manafe
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kecemasan Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjalankan evakuasi di Natuna mulai bergeser.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, dr. Achmad Yurianto menyebutkan saat awal kecemasan mereka terkait warga di Natuna yang sempat menolak kehadiran mereka.
“Fase awal mereka cenderung takut melihat penolakan, pemberitaan tentang penolakan di mana-mana, tapi sekarang sudah kondusif,” kata Yuri di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (10/2/2020).
Kini, setelah kondisi di Natuna sudah kondusif, para WNI yang kebanyakan berstatus sebagai mahasiswa mulai khawatir dengan kondisi perkuliahan mereka.
Terlebih pada 10 mahasiswa yang mengambil jurusan kedokteran di Wuhan, yang seharusnya di semester delapan ini mereka sudah melakukan kuliah praktik.
Sayangnya karena terjadi wabah corona mereka hanya mendapatkan teori saja yang bisa diakses secara online.
“Jadi teorinya dapat tapi praktiknya tidak dapat,” ucap Yuri.
Alhasil mereka khawatir kalau waktu kuliah mereka tidak sesuai dengan rencana alias molor, mengingat masa karantina yang belum berakhir.
“Mereka menyampaikan kekhawatiran kuliah akan molor, karena Wuhan kemungkinan akan di-lockdown mungkin sampai satu semester,” kata Yuri.
Beberapa juga khawatir jika nantinya ada larangan kembali le Wuhan dari pihak keluarga yang khawatir kondisi mereka di sana.
“Satu dua mulai mengkhawatirkan kalau sudah ketemu keluarga di rumah, kira-kira boleh tidak balik lagi ke wuhan untuk kuliah, kekhawatiran orang tua ini sudah mereka bayangkan,” ucap Yuri.
Untuk mengatasi kecemasan tersebut, pemerintah juga telah menyiapkan tim psikologi yang dapat membantu mereka mengatasi kecemasan.
“Kita datangkan tim psikologi untuk memberikan pendampingan, ini problelm dominan yang muncul di mereka,” kata Yuri.
Sekadar informasi, 238 WNI dievakuasi dari Provinsi Hubei, China karena wabah novel corona virus yang terus mengkhawatirkan hingga mengkarantina 15 kota di provinsi tersebut.
Usai dievakuasi mereka harus menjapankan proses observasi di Natuna untuk memastikan kondisi mereka dari virus yang telah menyebar ke lebih dari 20 negara itu.
Berkuliah secara online
Kondisi kesehatan 238 Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjalani masa observasi di Hanggar Lanud Raden Sajad dikabarkan terus membaik.
Bahkan, dengan akses dan ruang terbatas ratusan WNI yang di antaranya berstatus mahasiswa itu kini sudah menjalani aktivitas perkuliahaan online sebagaimana aktivitas kampus di balik komplek hanggar.
Baca: Pakar Kesehatan Internasional Diterbangkan ke Cina Bantu Penanganan Virus Korona
Dalam cuplikan video yang dikirim Humas Kemenkes Lukman Dede kepada Tribun, Senin (10/02/2020) terlihat aktivitas mahasiswa warga observasi tengah mengerjakan perkuliahaan online.
"Ada yang lagi kelas perkuliahaan online pak, kita lagi berusaha masuk ke kelas online," ujar seorang peserta observasi sembari memainkan gadgetnya.
Ia pak kuliah online, karena virus kuliahnya sekarang masuk online.
Jadi ngerjain tugas dari online, sahut beberapa mahasiswa itu saat ditanyakan oleh dokter Budi.
Untuk diketahui, dr. Budi Sylvana MARS viral sepekan terakhir lantaran setiap unggahan video diperankan oleh Budi.
Ia merupakan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI it
Bahkan seorang WNI yang menjalani masa observasi, Nathania saat dihubungi Tribun, Senin (10/02/2020) menyebutkan bahwa saat ini mereka sedang disibukkan aktivitas perkuliahan.
"iya kak, kami sudah pada mau kuliah, belajarnya online," ucap dia saat dihubungi.
Nathania merupakan seorang pelajar mahasiswa di Universitas Normal Huazhong, berlokasi di Komunitas Universitas Normal Tiongkok Tengah, Kecamatan Luonan, Distrik Hongshan di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei.
Tidak hanya Nathania, seorang warga observasi Sylvaniacarsila juga mengaku sudah menjalani proses kuliah online.
"Ada beberapa kampus yang mulai online belajarnya," tulis Sylva dalam pesan whassapnya.
Ditempat terpisah, Sekretaris Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto saat jumpa pers di Jakarta, Senin (10/02/2020) menyebutkan bahwa selain permasalahan masa observasi, ratusan WNI yang diantaranya mahasiswa kini harus memikirkan proses masa perkuliahan.
Karena di Wuhan itu masa perkuliahan telah dimulai untuk semester ini, namun memang masih diterapkan secara online.
Baca: Deteksi Virus Corona di Indonesia, UNAIR Akui Miliki Alat Pendeteksi dengan Keakuratan Capai 99%
Bahkan ia menyebutkan beberapa mahasiswa kedokteran semester 8 sudah harus menjalani masa praktek.
Jadi yang menjadi permasalahan mereka saat ini, bagaimana sponsor beasiswa mereka nantinya, jika proses masa karantina masih berlangsung hingga pulang ke rumah orang tua masing masing nantinya. Tentu akan memakan waktu, tandasnya. (Tribunbatam.id/bereslumbantobing)
Kata peneliti soal virus corona sudah sampai Indonesia
Mengutip Kompas.com, ada peneliti yang memprediksi sebenarnya ada lebih banyak kasus infeksi virus corona di Indonesia dan Thailand lantaran lokasinya dekat dengan Wuhan, China.
Baca: Meninggalnya Dokter Li Wenliang akibat Virus Corona Picu Kemarahan Masyarakat China
Hal ini pula yang membuat para ahli khawatir jika virus corona Wuhan atau novel coronavirus penyebarannya tidak terdeteksi.
Jika hal tersebut benar adanya, maka ada potensi epidemi lebih besar dari yang saat ini terjadi.
Untuk diketahui, data per hari ini mencatat 910 orang meninggal dan 40.553 orang positif terinfeksi secara global.
"Indonesia melaporkan nol kasus, tapi mungkin sebenarnya sudah ada beberapa kasus yang tak terdeteksi," ujar ahli epidemiologi Marc Lipsitch dari Harvard T.H Chan School of Public Health, penulis pendamping dari studi terbaru yang diposting di medRxiv.
"Sementara Thailand melaporkan 25 kasus, saya pikir sebenarnya lebih banyak dari itu," imbuhnya seperti dilansir VOA News, Jumat (7/2/2020).
Hingga Senin pagi (10/2/2020), jumlah pasien yang dilaporkan terinfeksi virus corona Wuhan di Thailand sudah 32 kasus.
Kamboja yang melaporkan satu kasus juga dianggap Lipsitch sangat tidak mungkin.
Dia pun yakin, ada lebih banyak kasus yang terjadi di Kamboja.
Baca: Cegah Virus Corona, Hong Kong Mulai Karantina Siapapun yang Datang dari China
Keyainan Lipsitch itu berdasar pada penelitian yang memperkirakan jumlah rata-rata penumpang yang terbang dari Wuhan ke negara lain di seluruh dunia.
Lebih banyak penumpang dari Wuhan mungkin berarti ada lebih banyak kasus.
Tidak terdeteksi?
Menurut Lipsitch, sistem kesehatan di Indonesia dan Thailand mungkin tidak dapat mendeteksi virus corona Wuhan.
Dan hal ini dirasanya dapat menciptakan masalah di seluruh dunia.
Baca: Penanganan Corona di Natuna Bisa Rp 1 Triliun, Sri Mulyani Siapkan Dana Siaga
"Kasus yang tidak terdeteksi di negara manapun berpotensi menyebarkan epidemi di negara-negara tersebut," kata Lipsitch.
Penelitian yang dilakukan Lipsitch dan timnya adalah satu dari tiga riset teranyar yang mengatakan bahwa virus corona Wuhan kemungkinan sudah ada di Indonesia.
Namun, tidak satu pun dari studi ini yang melalui proses ilmiah normal yang ditinjau oleh para ahli lain di luar tim.
Ketika wabah virus corona Wuhan menyebar dengan sangat cepat, para ilmuwan mengunggah temuannya secara online dan pada server pracetak agar informasi yang mereka miliki dapat tersebar luas dan bermanfaat.
Meski temuan tersebut masih dianggap kurang, para peneliti yang dihubungi VOA berkata bahwa temuan tersebut - virus corona Wuhan mungkin sudah ada di Indonesia - masuk akal.
Pasalnya, di China jumlah orang yang terinfeksi terus meningkat setiap harinya.
Namun di luar China, wabah itu hampir "tidak bergerak".
Baca: Akibat Wabah Virus Corona, Warga Wuhan Sedang Ada di Masa Penguncian, Ini Deretan Kisah Mereka
Kalaupun ada temuan baru, jumlahnya belasan, tidak seperti China yang tambahannya mencapai 100 kasus perhari.
Inilah yang membingungkan para ahli kesehatan di dunia.
Jika benar ada, di mana virus corona Wuhan?
Hal ini masih menjadi teka-teki yang belum bisa dijawab.
Ahli virus Christopher Mores dari Milken Institute School of Public Health University yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan, itu karena transmisi virus terbukti berbeda di luar zona wabah utama untuk beberapa alasan yang belum dijelaskan.
Baca: Terus Bertambah, Korban Tewas Akibat Virus Corona Kini Mencapai 813 Orang
"Atau kita hanya tidak menangkapnya dan menghitungnya, atau gagal saat mendeteksi," imbuh Mores.
Hingga kini, Indonesia, Thailand, dan Kamboja benar-benar menyeleksi turis dari China.
"Indonesia tengah melakukan apa yang mungkin untuk dipersiapkan dan mencegah dari virus corona baru," kata Dr. Navaratnasamy Paranietharan, perwakilan Indonesia dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada Sydney Morning Herald.
Ia juga mengatakan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di bidang pengawasan dan deteksi kasus virus corona baru.
Reaksi Kemenkes
Menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menganggap penelitian yang dilakukan para peneliti Harvard itu hanya berdasarkan kalkulasi matematis.
Pihak Kemenkes juga berpendapat hal tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.
Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Badan Litbang Kesehatan Kemenkes, dr Siswanto.
"Penelitian Harvard itu model matematik untuk memprediksi dinamika penyebaran novel corona virus berdasarkan seberapa besar orang lalu lalang," ujarnya yang dikutip dari Kompas.com.
Lebih lanjut Siswanto menjelaskan, menurut hitungan sstematis, seharusnya terdapat enam hingga tujuh kasus positif virus corona di Indonesia.
Namun hingga hari ini belum ada ditemukannya satu kasus pun yang dinyatakan positif corona.
Baca: 2 Orang Lari dari Karantina Virus Corona, Polisi Hong Kong akan Keluarkan Surat Perintah Penangkapan
Baca: 43 Orang Terinfeksi Virus Corona, 6 Orang Sembuh di Singapura
Hal itu berdasarkan dari hasil pemeriksaan di laboratorium Litbang Kemenkes.
"Kalau diprediksi harusnya ada 6 kasus, ternyata sampai hari ini tidak ada," ujarnya.
Sehingga Siswanto menuturkan bahwa penelitian dari Harvard tersebut hanya sebuah presdiksi.
Menurutnya seharusnya kita bersyukur karena di Indonesia bersih dari virus corona.
"Ya harusnya justru kita bersyukur. Kita sudah teliti dengan benar," kata Siswanto.
"Itu (penelitian ahli Harvard) hanya prediksi saja," ujarnya.
Baca tanpa iklan