Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pemulangan WNI Eks ISIS

Keputusan Pemerintah Tak Pulangkan 689 WNI Eks ISIS Sesuai Keinginan Rakyat

Haidar juga menilai, seharusnya 689 orang tersebut sudah tidak layak disebut WNI karena telah membakar paspor Indonesia.

Keputusan Pemerintah Tak Pulangkan 689 WNI Eks ISIS Sesuai Keinginan Rakyat
AFP/Delil Souleiman
Anggota ISIS berserta istri dan anak-anak mereka keluar dari desa Baghouz di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, Kamis (14/3/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pegiat anti-radikalisme Haidar Alwi mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tidak memulangkan WNI eks ISIS di Suriah, Turki dan dibeberapa negara terlibat Petempur Teroris Asing (Foreign Terrorist Fighter/FTF).

Menurut Haidar, keputusan Jokowi sudah sesuai dengan kemauan rakyat Indonesia.

"Saya mendukung penuh keputusan Presiden Jokowi dan itu sudah sesuai dengan maunya rakyat Indonesia," kata Haidar Alwi saat dihubungi Tribunnews, Rabu (12/2/2020).

Haidar juga menilai, seharusnya 689 orang tersebut sudah tidak layak disebut WNI karena telah membakar paspor Indonesia.

Baca: Tangkap 11 Kurir Narkoba, Bareskrim Sita 59 Kg Sabu

Ia mengusulkan orang-orang tersebut lebih tepat disebut anggota ISIS eks WNI.

"Mereka sudah tidak layak disebut WNI lagi. Karena sudah membakar paspor yang merupakan kebanggaan dan identitas," ucapnya.

Haidar juga mengatakan, keputusan pemerintah yang berencana memulangkan anak-anak WNI eks ISIS itu harus dibarengi dengan pembinaan khusus.

Baca: Lucinta Luna Bakal Jalani Tes Darah dan Rambut, Akui Pakai Narkoba untuk Hilangkan Depresi

Sebab, ia menyebut, anak-anak yang berusia 10 tahun ke bawah bisa saja sudah terpapar virus terorisme. Haidar lantas memberi saran agar anak-anak yang dipulangkan di bawah usia 5 tahun.

"Jika Presiden Jokowi tetap memulangkan anak-anak WNI eks ISIS ini lebih pada kemanusiaan," ujar Haidar.

"Harus ada pembinaan khusus, atau lebih tepatnya karantina untuk ditanami nilai-nilai Pancasila sebelum dikembalikan ke keluarga," tambahnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas