Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Komisioner KPU Terjaring OTT KPK

Perantara Suap Harun Masiku Kepada Wahyu Setiawan Segera Jalani Sidang

Mantan staf Hasto Kristiyanto, Saeful Bahri, segera menjalani persidangan dalam kasus dugaan suap pergantian antarwaktu anggota DPR terpilih 2019-2024

Perantara Suap Harun Masiku Kepada Wahyu Setiawan Segera Jalani Sidang
Tribunnews/JEPRIMA
Tersangka Saeful Bahri memasuki ruangan untuk menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). Saeful Bahri merupakan pihak swasta yang diperiksa terkait kasus dugaan korupsi penetapan pergantian antar waktu anggota DPR periode 2019-2024. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan staf Hasto Kristiyanto, Saeful Bahri, segera menjalani persidangan dalam kasus dugaan suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR terpilih 2019-2024.

"Persidangan akan dilaksanakan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat. JPU saat ini tinggal menunggu penetapan hari sidang dari Majelis Hakim PN Tipikor Jakarta Pusat," kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Kamis (19/3/2020).

Dalam melengkapi berkas penyidikan, KPK telah memerika 32 saksi untuk Saeful.

Baca: Dewas KPK Lebih Pilih Diksi Klarifikasi Ketimbang Periksa Ketua WP Terkait Kompol Rossa

Saksi yang diperiksia di antaranya Arief Budiman (Ketua KPU periode 2017-2022), Evi Novida Ginting (Anggota KPU periode 2017-2022), Hasto Kristiyanto (Sekjen PDIP), Riezky Aprilia (Anggota DPR RI periode 2019-2024), dan Wahyu Setiawan (Anggota KPU periode 2017-2022).

Berkas perkara Saeful Bahri rampung tanpa pemeriksaan terhadap eks caleg PDIP Harun Masiku yang hingga kini masih buron.

Padahal, Harun Masiku diduga memberikan suap dengan perantara Saeful.

Ali mengklaim KPK masih terus memburu Harun Masiku yang lolos dari operasi tangkap tangan (OTT) pada 8 Januari 2020 atau sekira dua bulan lalu.

Baca: KPK Periksa 11 Saksi di Polretabes Bandung Terkait Suap Pengadaan Ruang Terbuka Hijau

Sebelumnya, Hasto Kristiyanto telah mengakui jika Saeful adalah salah satu stafnya.

Saeful diakui Hasto adalah staf ketika dirinya menjabat sebagai anggota DPR tahun 2009.

"Seperti yang disampaikan KPU, Saeful ini dari swasta. Ya tapi saya mengenal juga. Karena pada tahun 2009 saya menjadi anggota DPR dia adalah staf saya. Tapi bukan staf sekjen ya," kata Hasto di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Saeful sebagaimana diketahui hanya disebut sebagai pihak swasta yang menyuap Komisioner KPU Wahyu Setiawan.

Baca: Cegah Corona, Gedung Merah Putih KPK Disemprot Disinfektan

Sedangkan Hasto telah lebih dulu menyebut ada pembingkaian dalam kasus suap KPU yang seolah-olah ia berada dalam pusaran kasus.
Hasto juga sempat membantah punya staf yang jadi tersangka dalam kasus suap tersebut.

Dalam kasus ini, KPK menjerat Komisioner KPU Wahyu Setiawan, mantan Anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina yang juga orang kepercayaan Wahyu, kader PDIP Harun Masiku, dan Saeful Bahri sebagai tersangka.

Caleg dari PDIP Harun Masiku melakukan penyuapan agar Wahyu Setiawan bersedia memproses pergantian anggota DPR melalui mekanisme PAW. Upaya itu, dibantu oleh mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu Agustiani Tio Fridelina dan seorang kader PDIP Saeful Bahri.

Wahyu diduga telah meminta uang sebesar Rp900 juta kepada Harun untuk dapat memuluskan tujuannya. Permintaan itu pun dipenuhi oleh Harun.

Namun, pemberian uang itu dilakukan secara bertahap dengan dua kali transaksi yakni pada pertengahan dan akhir bulan Desember 2019.

Pemberian pertama, Wahyu menerima Rp200 juta dari Rp400 juta yang diberikan oleh sumber yang belum diketahui KPK.

Uang tersebut diterimanya melalui Agustiani di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Kedua, Harun memberikan Rp850 juta pada Saeful melalui stafnya di DPP PDIP. Saeful kemudian memberikan Rp150 juta kepada Donny selaku advokat.

Adapun sisanya Rp700 juta diberikan kepada Agustiani, dengan Rp250 juta di antaranya untuk operasional dan Rp400 juta untuk Wahyu.

Namun upaya Wahyu menjadikan Harun sebagai anggota DPR pengganti Nazarudin Kiemas tak berjalan mulus. Hal ini lantaran rapat pleno KPU pada 7 Januari 2020 menolak permohonan PDIP untuk menetapkan Harun sebagai PAW.

KPU bertahan menjadikan Riezky Aprilia sebagai pengganti Nazarudin.

Meski demikian, Wahyu tak berkecil hati. Dia menghubungi Donny dan menyampaikan tetap berupaya menjadikan Harun sebagai PAW.

Untuk itu, pada 8 Januari 2020, Wahyu meminta uang yang diberikan Harun kepada Agustina.

Namun, saat hendak menyerahkan uang tersebut kepada Wahyu, penyidik KPK menangkap Agustiani dengan barang bukti Rp400 juta dalam bentuk Dolar Singapura.

Atas perbuatannya, Wahyu kini resmi ditahan di rutan Pomdam Jaya Guntur dan Agustiani Tio Fridelina ditahan di rutan K4 yang berada tepat di belakang Gedung Merah Putih KPK.

Adapun tersangka Saeful selaku terduga pemberi suap ditahan di rutan gedung KPK lama Kavling C1, sedangkan kader PDIP Harun Masiku masih buron.

Sebagai pihak penerima, Wahyu dan Agustiani disangkakan melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan Harun dan Saeful selaku pemberi, disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Adi Suhendi
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas