Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tanggapi Permintaan Pemberhentian KRL selama PSBB, Pengamat: Terbalik, Kegiatannya yang Dihentikan

Permintaan beberapa kepala daerah di Jabodetabek untuk penggentian KRL mendapat tanggapan dari pengamat transportasi, Ellen Tangkudung.

Tanggapi Permintaan Pemberhentian KRL selama PSBB, Pengamat: Terbalik, Kegiatannya yang Dihentikan
WARTA KOTA/WARTA KOTA/Nur Ichsan
SUASANA STASIUN TANAH ABANG - Penumpang kereta commuter Line, di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, sedang menunggu KRL yang akan membawa mereka ke tempat tujuan, Jumat (27/3/2020). Suasana di stasiun ini terlihat sedikit lengang tidak seperti biasanya, ini sebagai efek domino dari penyebaran wabah Covid-19, yang membuat orang khawatir naik kereta api, WARTA KOTA/Nur Ichsan 

TRIBUNNEWS.COM - Permintaan beberapa kepala daerah di Jabodetabek untuk penggentian moda transportasi kereta rel listrik (KRL) mendapat tanggapan dari pengamat transportasi, Ellen Tangkudung.

Dilansir TribunWow.com, Ellen Tangkudung mengatakan penghentian ataupun pembatasan transportasi dinilai bukan langkah tepat untuk mengatasi adanya penumpukan orang di beberpa stasiun KRL Jabodetabek.

Seperti yang dikabarkan sebelumnya, terjadi penumpukan calon penumpang KRL di beberapa stasiun, terutama untuk keberangkatan dengan tujuan Jakarta.

Penumpukan pada transportasi kereta rel listrik (KRL)
Penumpukan pada transportasi kereta rel listrik (KRL) (Youtube/KompasTV)

 

Kondisi tersebutlah yang dikeluhkan oleh para kepala daerah yang sudah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), seperti dari Wakil Wali Kota Bogor, Dedie Rachim dan Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi.

Dalam tayangan Youtube KompasTV, Rabu (15/4/2020), Ellen Tangkudung menilai akar permasalahannya bukan berada di KRLnya.

Namun menurutnya, permasalahnya yaitu berada pada aktivitasnya.

Ia menilai banyaknya pergerakan masyarakat karena ditengarai oleh masih banyaknya perusahaan-perusahaan atau kantor-kantor yang masih memperkerjakan pegawainya tidak secara working from home.

Maka dari itu, Ellen Tangkudung meminta yang diberhentikan bukan transportasinya melainkan aktivitas dari perushaan ataupun kantor tersebut.

Dengan begitu, maka secara otomatis, transportasinya akan mengikuti dengan sendirinya.

"Mengurangi bahkan menghentikan kegiatan transportasi bukan cara untuk mengurangi kerumunan dan membatasi aktivitas," ujar Ellen Tangkudung.

Baca Selengkapnya >>>

Ikuti kami di
Editor: Tiffany Marantika Dewi
Sumber: TribunWow.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas