Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Dirut Irfan Setiaputra: Garuda Harus Tetap Gagah Perkasa

Menurut Irfan, apapun yang menerpa Garuda Indonesia, termasuk diterpa wabah corona, tak boleh mengendurkan optimisme di tubuh garuda.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Dirut Irfan Setiaputra: Garuda Harus Tetap Gagah Perkasa
TRIBUN/DANY PERMANA
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menjawab pertanyaan jurnalis saat melakukan sesi wawancara dengan Tribunnews.com di kantor Garuda Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Kamis (11/6/2020). TRIBUNNEWS/DANY PERMANA 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Urama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyebut maskapai penerbangan nasional Indonesia harus gagah perkasa meski digoncang wabah corona atau Covid-19.

Irfan bercerita nama Garuda Indonesia diberikan secara langsung oleh Presiden RI Soekarno.

Ia menganalogikan nama Garuda diberikan karena di lambang burung garuda ada Bhinneka Tunggal Ika.

Hal itu kemudian, ia tafsirkan sebagai mandat maskapai terbesar di Indonesia itu, untuk menyambungkan setiap perbedaan yang ada di nusantara.

Perbedaan antar provinsi, antar suku, antar bahasa, dan antar golongan.

Karena itu, menurut Irfan, apapun yang menerpa Garuda Indonesia, termasuk diterpa wabah corona, tak boleh mengendurkan optimisme di tubuh garuda.

"Garuda harus gagah perkasa," katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Berikut petikan wawancara Tribun Network bersama Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra:

Bagaimana Anda melihat Garuda Indonesia?

Saya selalu menceritakan dan membanggakan gini. Garuda itu kan' sama BUMN dulu namanya perusahaan negara.

PLN, Perusahaan Listrik Negara. Pertamina, Perusahaan Minyak Nasional. Semen Indonesia, Krakatau Steel, Pupuk, PN Garam, Telkom, Pos, kenapa Garuda namanya bukan PT Pesawat Indonesia.

Baca: Rupiah dan Persepsi Pasar di Tengah Pandemi Coron

Tidak ada dokumentasi itu. Tapi saya coba menerawang, saya pengagum Bung Karno. Soekarno terlalu hebat. Saya cukup mengagumi Soekarno. Saya pengagum Jokowi. Saya coba melihat vision dia, pidato-pidatonya dia pada waktu itu.

Sesama anak ITB sorry, cara berpikir, lagu-lagunya, tengil-tengilnya anak ITB. Soknya anak ITB. Oh kira-kira menurut saya, Garuda Indonesia. Karena memang mandat kita. Di lambang garuda ada Bhinneka Tunggal Ika.

Kita memang punya mandat menyambungkan suku-suku di Indonesia, bangsa-bangsa di pulau-pulau.

Anda tahu orang Jawa melihat orang Sumatera pada waktu 1950an. Saya kawin tahun 1991, saya orang Solo semua keluarga saya orang Jawa. Istri saya orang Palembang. Waktu mau nikah, kamu yakin? Kayak kawin sama alien gitu ha-ha.

Tapi bayangkan kalau saya menikah pada 1950, dibilang sudah gila apa? Tapi kenapa berubah 1950-1990 itu orang cuma tanya kamu yakin, ya sudah saya doain.

Itu karena garuda, karena kita ketemu sama orang Medan, Ambon, saya tidak bayang tahun-tahun segitu ketemu orang Irian bagaimana reaksi orang Jawa. Sementara kau di Medan liat orang Jawa.

Ketika kita berinteraksi bertemu, ketika dulu kita liat orang bule ketakutan. Sampai hari ini semua ketemu. Hari ini mereka sudah tahu bahwa Bali itu bagian dari Indonesia. Karena garuda. Saya juga agak ngerti kenapa maskapai satunya merpati.

Muka pertama Indonesia ada di mana? Di pintunya garuda. Kalau dia lihat sudah nyebelin the whole pasti nyebelin. Anda lihat kan ada foto pakai APD. Banyak yang ngirim masuk kabin apa ICU.

Baca: 5 Aksi Unik Polisi Tangkap Penjahat, Nyamar Jadi Emak Berdaster & Ikut Suprise Ultah di Kos-kosan

Tapi yang saya maksud ini, saya melihat tidak bisa kita main stop saja. Kita masih terbang, saat yang lain tidak. Gagah perkasa kita.

Kita pernah menerbangkan empat orang ke Pontianak. Empat orang telepon saya, Ibu saya kemarin malam meninggal. Dan empat-empatnya adik kakak. Pagi itu sampai ke Pontianak. Ini bukan soal untung rugi lagi, ini soal mandat soal kewajiban yang bikin kita makin kempes ha-ha.

Tapi kita bukan company peminta-minta. Kita tidak mau. Kita akan berjuang dengan apa yang bisa kita lakukan.

Termasuk bilang sama penyewa pesawat, bos gua belum bisa bayar. Its very economical logic ketika saya putuskan potong gaji atau tunda bayar.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menjawab pertanyaan jurnalis saat melakukan sesi wawancara dengan Tribunnews.com di kantor Garuda Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Kamis (11/6/2020). TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menjawab pertanyaan jurnalis saat melakukan sesi wawancara dengan Tribunnews.com di kantor Garuda Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Kamis (11/6/2020). TRIBUNNEWS/DANY PERMANA (TRIBUN/DANY PERMANA)

Yang paling atas mesti kasih contoh. Kita yang paling besar, direksi, komisaris dipotong 50 persen. Sejak April, Mei, Juni.

Dan dalam beberapa Minggu ini saya mesti mengumumkan bahwa bulan Juli kita akan bayar penuh atau potongan ini diteruskan atau potongan ditambah. Paling tinggi 50 persen sampai 10 persen.

Kita mesti kasih contoh pengorbanan dan semangat. Dan menawarkan untuk orang dirumahkan. Kita juga selesaikan pilot yang kontrak. Kita juga dalam masa menawarkan pensiun dini.

Kalau Anda datang ke sini bulan Januari saya sudah sediakan kue, hari ini tidak. Makan sendiri-sendiri lah, makanya syawal haha. Pertumbuhan menjadi 10 persen. Ini kan sungguh berat.

Baca: FPKB Desak Ridwan Kamil Tinjau Ulang Kepgub Protokol Kesehatan Lingkungan Pesantren yang Memberatkan

Apa ini menjadi landasan untuk pemotongan gaji atau PHK pilot?

Yang kemarin bukan PHK tapi percepatan kontrak. Ada pilot yang pegawai tetap dan kontrak. Yang status kontrak ini kita percepat. Hak-hak yang kita sepakati kita selesaikan.

Kita tidak mau dzalim. Ya mereka mengerti. Apakah ini akan berhenti? Kalau kondisi tetap tidak membaik ya kita teruskan.

Dan kalau Anda tanya kapan kita tidak tahu. Problem-nya, Garuda Recovery itu tergantung dari penumpang mau naik. Kita pengennya Anda naik lagi. Tapi kita tahu juga semua gamang.

Makanya kalau Anda lihat, kita sedang melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa Anda naik pesawat itu aman. Aman dari virus maupun dari protokol penerbangan. Dan Anda tetap nyaman. Itu yang sedang kita kampanyekan terus.

Langkah-langkah new normal, apa yang dilakukan pihak Garuda Indonesia?

Saya lebih setuju new normal. New normal itu sebuah kesapakatan. Bagaimana perusahaan bertanggungjawab melakukan persiapan itu.

Tapi the essence itu bahwa kita ini punya tanggung jawab sama-sama. Ada yang cuek, ada yang gagah berani. Ada yang parno.

Baca: Video Pitch Invader yang Membuat Para Pemain Barcelona dan Mallorca Tertawa Karena Tangisannya

Saya punya teman, Anda sudah cuci tangan. Dikit-dikit cuci, iya biar bersih. Coba semprot ke muka, siapa tahu bisa bikin licin ha-ha. Jerawat-jerawat lama-lama ilang sendiri.

Dari mulai yang cuek, gagah berani, dan parno ini bakal bertemu di satu pesawat. Satu tujuan kan'.

Waktu penumpang beli tiket kan' kita tidak tanya klasifikasi Anda apa. Kita harus membuat orang di setiap level aman dan nyaman. Yang cuek ini tidak rese-rese amat.

Tapi Anda bawa rapid test karena ini kesepakatan bersama bahwa Anda sehat. Atau posisinya tidak menyebarkan. Anda duduk agak jauh-jauhan ya.

Kecuali Anda bersama istri dan anak bisa kesepakatan bertiga. Saya berpikir ini proses kita mengubah interaksi sampai dalam satu titik kita nyaman. Kita semua nyaman.

Seperti kita kemarin-kemarin kita nyaman desek-desekan. Nonton film dekat-dekatan. Naik bus dekat-dekatan.

Kita mungkin mencapai sebuah kesepakatan baru. Kalau menurut pikiran saya, selama Anda pakai masker, jaga jarak, tahu diri kalau Anda tidak fit tidak bepergian, mestinya semua ok.

Bahwa ada insiden sana-sini, ya kan kayak demam berdarah, flu, sambil berharap vaksind ditemukan. (tribun network/denis)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas