Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kemlu Komitmen Bantu Pemulangan dan Pemenuhan Pembayaran Gaji 6 ABK Terlantar di Fiji

Judha Nugraha menyampaikan bahwa perwakilan Indonesia yaitu KBRI Suva di Fiji telah menindaklanjuti informasi awal yang diterima.

Kemlu Komitmen Bantu Pemulangan dan Pemenuhan Pembayaran Gaji 6 ABK Terlantar di Fiji
Dok. Kemlu RI
Direktur Perlindungan WNI (PWNI) Judha Nugraha dalam konferensi pers daring dengan media (3/6/2020). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berkomitmen untuk membantu pemenuhan pembayaran gaji 6 anak buah kapal (ABK) Indonesia di kapal China Rong Da Yang 8 yang terlantar di Fiji.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI), Judha Nugraha menyampaikan bahwa perwakilan Indonesia yaitu KBRI Suva di Fiji telah menindaklanjuti informasi awal yang diterima.

“Terkait masalah gaji KBRI yang ada di Suva dan manning agency yang ada di indonesia telah menyampaikan komitmennya untuk memberikan pemenuhan kebutuhan para ABK kita,” kata Judha dalam konferensi pers daring dengan media, Jumat (7/8/2020).

Sekiranya ada 6 awak kapal Indonesia yang bekerja di kapal Rong Da Yang 8 dengan sejumlah permasalahan.

Baca: Kisah Pilu ABK Kapal China yang Kini Hilang Kontak, Diberi Makan Bangkai Ayam Digoreng & Timun Busuk

Diantaranya terkait permasalahan gaji, uang saku, dan juga kondisi lockdown yang saat ini diterapkan pemerintah Fiji.

“Dapat kami informasikan juga saat ini pemerintah Fiji menerapkan larangan bagi para ABK yang ada di Fiji untuk turun ke kapal karena kebijakan untuk melakukan pencegahan covid-19,” kata Judha.

Keenam ABK saat ini masih belum bisa dipulangkan ke Indonesia secara cepat, karena penerbangan masih ditutup di negara tersebut.

“Dalam kondisi ini perwakilan kita yang ada di Fiji dan juga bekerja sama dengan agency yang ada di sana sedang berupaya agar para ABK kita dapat turun dari kapal,” kata Judha.

“Terutama para pekerja abk kita yang tidak ingin melanjutkan bekerja di kapal itu utk dapat turun ke Fiji dan kemudian dapat kita fasilitasi kepulangannya ke Indonesia, tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ada dan juga ketersediaan penerbangan,” lanjutnya.

Dikutip dari beberapa sumber, satu orang ABK di Kapal Rong Da Yang 8 bernama Nicholas Stanley mengaku mengalami pengalaman buruk saat bekerja di kapal berbendera China tersebut.

Selain soal jam kerja yang tidak manusiawi ia juga mengalami perlakuan buruk dari mandornya.

Selama bekerja Nicholas mendapatkan gaji USD 300 atau sekitar Rp 4 juta yang ia terima setiap 3 bulan sekali. Tapi, uang tersebut masih harus dipotong oleh pihak agensi.

Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas