Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Beda Jalan AHY dan Gibran: yang Satu Sibuk Urusi 'Kudeta' dan Satunya Fokus Jadi Wali Kota

AHY dan Gibran merupakan putra presiden RI yang sama-sama pernah maju di Pilkada. Namun "nasib politik" keduanya berbeda.

Beda Jalan AHY dan Gibran: yang Satu Sibuk Urusi 'Kudeta' dan Satunya Fokus Jadi Wali Kota
KOMPAS.com/IHSANUDDIN
Putera Sulung Presiden Joko Widodo Gibran Rakabuming (kiri) dan Putera Sulung Presiden SBY saat bertemu di Istana, Kamis (10/8/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Gibran Rakabuming. Keduanya merupakan putra presiden RI yang sama-sama pernah maju di Pilkada. Namun "nasib politik" keduanya berbeda.

Pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, AHY -putra pertama dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)- maju di Pilkada 2017 berpasangan dengan Sylviana Murni.

Keputusannya maju di Pilkada ketika itu mengejutkan banyak pihak. Bagaimana tidak? AHY diprediksi bakal memiliki karier militer yang cemerlang. Namun, ia yang kala itu berpangkat mayor, justru memilih mundur dari TNI.

Baca juga: Demokrat: Moeldoko Tak Perlu Ambil Paksa Kepemimpinan AHY, Ayo Berjuang agar PT 0 Persen 

Istana Tolak Jawab Surat AHY untuk Jokowi soal Upaya Kudeta: Itu Urusan Rumah Tangga Demokrat

Banyak kalangan menyayangkan keputusan tersebut, apalagi, AHY dalam Pilkada itu kalah dari pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Pasca-kekalahan itu, AHY kini meneruskan kepemimpinan sang ayah sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Baca juga: FX Rudy Siap Kawal Pemerintahan Gibran-Teguh: Wali Kota dan Wakilnya Petugas Partai PDIP

Belakangan, nama AHY kembali diperbincangkan seusai dirinya mengungkap adanya pihak yang ingin mengkudeta Partai Demokrat.

Dalam konferensi pers yang disampaikan Senin (1/2/2021), AHY mengungkapkan ada gerakan politik yang ingin mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa melibatkan pejabat lingkaran Presiden Jokowi.

AHY menyebut, informasi ini didapatkannya setelah ada laporan dari pimpinan dan kader Demokrat, baik tingkat pusat maupun cabang.

"Adanya gerakan politik yang mengarah pada upaya pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa, yang tentu mengancam kedaulatan dan eksistensi Partai Demokrat," kata AHY dalam jumpa pers tersebut.

Baca juga: Demokrat: Jika Tak Ada Hubungan dengan Presiden, Jokowi Semestinya Jawab Surat AHY

Isu adanya kudeta tersebut muncul diduga karena kegagalan AHY di Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: Tribun Banten
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas